
Pantau - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena menegaskan penyusunan peta jalan dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan menjadi langkah strategis untuk mewujudkan target Net Zero Emission (NZE) 2050 di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan dampak perubahan iklim.
Pernyataan tersebut disampaikan Melki saat menghadiri Kickoff Meeting: Studi Roadmap Dekarbonisasi Sektor Ketenagalistrikan Nusa Tenggara Timur Menuju Net Zero Emission 2050 yang diselenggarakan oleh Institute for Essential Services Reform (IESR).
Melki mengatakan, "Perubahan iklim telah menjadi tantangan global yang dampaknya semakin nyata kita rasakan, termasuk di seluruh wilayah NTT. Karena itu, pembangunan ke depan harus memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan."
Menurut Melki, dampak perubahan iklim di NTT terlihat dari musim kemarau yang semakin panjang, meningkatnya ancaman terhadap sektor pertanian, perikanan, dan ketahanan pangan, serta bertambahnya risiko bencana hidrometeorologi.
Peta Jalan Disiapkan Hadapi Kebutuhan Energi
Di sisi lain, kebutuhan energi di NTT terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, pembangunan kawasan industri, pengembangan sektor pariwisata, hilirisasi sumber daya alam, dan meningkatnya kualitas hidup masyarakat.
Pemerintah daerah menghadapi tantangan untuk memenuhi kebutuhan energi melalui sistem ketenagalistrikan yang andal sekaligus rendah emisi karbon.
Melki mengatakan, "Tantangan kita adalah memastikan peningkatan kebutuhan energi tersebut dapat dipenuhi melalui sistem ketenagalistrikan yang andal sekaligus rendah emisi karbon."
Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan visi NTT Net Zero Emission 2050 sebagai bentuk komitmen mewujudkan pembangunan rendah karbon dan berketahanan terhadap perubahan iklim.
Menurut Melki, peta jalan dekarbonisasi harus memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi ketenagalistrikan saat ini, memuat proyeksi kebutuhan listrik di masa depan, memetakan potensi energi baru terbarukan, mencakup berbagai skenario transisi energi, serta menyusun strategi implementasi yang disesuaikan dengan karakteristik geografis, sosial, dan ekonomi NTT.
Potensi Energi Bersih Jadi Modal Strategis
Melki mengatakan NTT memiliki potensi besar dalam pengembangan energi bersih yang berasal dari tenaga surya, tenaga air, energi angin, dan panas bumi.
Ia mencontohkan Pulau Sumba sebagai pelopor Sumba Iconic Island yang telah memanfaatkan tenaga surya, pembangkit mikrohidro, biomassa, dan energi angin.
Menurut Melki, Pulau Sumba menjadi bukti bahwa wilayah kepulauan mampu menjadi laboratorium transisi energi di Indonesia.
Potensi energi bersih tersebut dinilai menjadi modal strategis untuk membangun sistem ketenagalistrikan yang lebih bersih, andal, dan berkelanjutan melalui peningkatan bauran energi terbarukan, perluasan akses listrik hingga ke pulau-pulau kecil, pembukaan peluang investasi hijau, penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah ekonomi daerah, serta penguatan ketahanan energi.
Melki mengatakan, "Harapan kita, peta jalan ini nantinya tidak hanya menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan sektor ketenagalistrikan, tetapi juga menjadi landasan untuk menarik investasi energi bersih, mempercepat pemanfaatan energi terbarukan, meningkatkan akses listrik yang berkualitas, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi daerah menuju pembangunan yang hijau, tangguh, dan berkelanjutan."
- Penulis :
- Arian Mesa





