
Pantau - Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menegaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk peningkatan literasi nasional harus tetap berlandaskan integritas, seiring penguatan budaya informasi di era digital.
Integritas AI dalam Kepustakawanan
Sekretaris Utama Perpusnas Joko Santoso menegaskan bahwa kerja kepustakawanan tetap berfokus pada verifikasi kebenaran fakta dan metode ilmiah sehingga integritas menjadi prinsip utama dalam penggunaan AI di sektor literasi.
Ia menyampaikan bahwa pustakawan harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui pelatihan pemanfaatan AI agar tetap relevan dalam mendukung peningkatan literasi nasional secara berkelanjutan.
Joko Santoso menjelaskan bahwa AI digunakan dalam berbagai aktivitas kepustakawanan yang bersifat kolaboratif seperti riset, sitasi, dan penerjemahan yang melibatkan kerja sama dengan peneliti lintas bidang.
Perpusnas juga menekankan penguatan literasi digital melalui pengembangan fasilitas seperti pojok buku digital, titik baca di ruang publik, serta sekolah rakyat yang menyediakan aktivitas peningkatan kemampuan membaca dan pemahaman informasi.
KPDI ke-17 dan Penguatan Literasi Digital
Perpusnas bekerja sama dengan Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI) dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sebagai tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 yang akan digelar pada 4 hingga 6 Agustus 2026 di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Konferensi tersebut mengangkat tema Kesadaran, Perilaku, Interaksi, dan Budaya Informasi di Era Kecerdasan Buatan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab di tengah perkembangan AI.
Perpusnas menegaskan bahwa penguatan ekosistem literasi digital dan kolaborasi lintas institusi menjadi strategi utama agar masyarakat tetap memiliki kontrol dalam penggunaan teknologi AI yang diposisikan sebagai alat pendukung literasi.
- Penulis :
- Shila Glorya





