HOME  ⁄  Nasional

Ahli Minta Indonesia Perkuat Mitigasi Gempa Kembar Berkaca dari Bencana Venezuela

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Ahli Minta Indonesia Perkuat Mitigasi Gempa Kembar Berkaca dari Bencana Venezuela
Foto: (Sumber :Direktur Pusat Studi Gempa Sulawesi (PSGS) Doktor Ardy Arsad saat menyampaikan presentase ID Conference Geoteknik Gempa di Osaka, Japan. ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi..)

Pantau - Pusat Studi Gempa Sulawesi (PSGS) mengingatkan Pemerintah Indonesia untuk memperkuat mitigasi bencana dengan mempertimbangkan skenario earthquake doublet atau gempa kembar setelah peristiwa dua gempa besar yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2026.

Potensi Gempa Kembar Perlu Diantisipasi

Direktur PSGS Doktor Ardy Arsad menilai peristiwa di Venezuela menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang berada di kawasan tektonik aktif dengan banyak sumber gempa dari zona subduksi, sesar aktif, dan sistem patahan bersegmen.

"Peristiwa Venezuela menjadi pengingat bahwa skenario earthquake doublet (gempa kembar) tidak dapat diabaikan dalam kajian mitigasi bencana," ungkap Ardy.

Ia menjelaskan Venezuela diguncang gempa berkekuatan 7,2 Mw yang disusul gempa 7,5 Mw hanya dalam selang waktu 39 detik pada hari yang sama, sehingga menjadi fenomena yang sangat jarang dalam sejarah seismologi.

Menurut Ardy, Indonesia secara teoritis juga berpotensi mengalami gempa kembar karena sejumlah sesar aktif, seperti Sesar Palu-Koro, Sesar Sumatra, dan zona subduksi Sunda, memiliki karakteristik patahan bersegmen yang memungkinkan pelepasan energi secara berurutan.

"Sebab, beberapa sistem sesar aktif di Indonesia, seperti Sesar Palu–Koro, Sesar Sumatra, maupun zona subduksi Sunda, memiliki karakteristik rupture bersegmen (segmented fault rupture) yang berpotensi menghasilkan pelepasan energi secara berurutan," ujarnya.

Dorong Penelitian dan Evaluasi Standar Bangunan

Ardy mengatakan fenomena gempa kembar membuka ruang penelitian mengenai dampak multiple strong ground motions terhadap bangunan, termasuk potensi cumulative damage atau akumulasi kerusakan akibat dua atau lebih guncangan kuat yang terjadi hampir bersamaan.

Ia menilai penelitian tersebut penting karena kerusakan berulang dapat menurunkan kekakuan struktur hingga memicu keruntuhan meski bangunan telah memenuhi standar desain.

Ardy juga menyoroti bahwa SNI 1726:2019 masih mengacu pada satu skenario gempa rencana sehingga diperlukan kajian lanjutan untuk mengetahui dampak gempa beruntun terhadap bangunan vital.

"Serta bagaimana pengaruhnya terhadap bangunan penting, seperti rumah sakit, jembatan, bendungan, pembangkit listrik, pelabuhan, dan fasilitas vital lainnya," paparnya.

Penulis :
Aditya Yohan