
Pantau - Teknologi nuklir semakin berperan dalam memperkuat sistem kesehatan Indonesia melalui layanan kedokteran nuklir yang mendukung deteksi dini penyakit, diagnosis yang lebih presisi, serta terapi berbagai penyakit, terutama kanker, di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan nasional.
Pendekatan kedokteran nuklir memungkinkan dokter mempelajari aktivitas biologis tubuh hingga tingkat sel dengan memanfaatkan radiofarmaka yang mengandung radioisotop dalam dosis terkendali sehingga penyakit dapat dideteksi sebelum menimbulkan perubahan struktur organ yang terlihat secara nyata.
Perkembangan tersebut menjadi bagian dari transformasi layanan kesehatan yang mengarah pada pendekatan yang lebih prediktif dan presisi.
Infrastruktur dan Produksi Radioisotop
Beban penyakit tidak menular, khususnya kanker, menjadi salah satu alasan meningkatnya kebutuhan layanan kedokteran nuklir di Indonesia.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan), Indonesia mencatat 408.661 kasus baru kanker dan 242.099 kematian akibat kanker pada 2022.
Teknologi nuklir berperan penting dalam mendukung diagnosis dan terapi karena mampu mendeteksi perubahan biologis pada tingkat sel lebih awal sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih besar.
Namun, hingga pertengahan 2023, Kementerian Kesehatan mencatat layanan radioterapi baru tersedia di 17 provinsi, sedangkan layanan kedokteran nuklir baru menjangkau sekitar 10 provinsi.
Indonesia saat ini memiliki tiga reaktor riset yang dikelola Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yakni Reaktor TRIGA 2000 di Bandung, Reaktor Kartini di Yogyakarta, dan Reaktor Serba Guna GA Siwabessy (RSG-GAS) di Serpong, Banten.
Ketiga reaktor tersebut dimanfaatkan untuk penelitian, pendidikan, pengujian material, serta produksi radioisotop medis sebagai bahan baku radiofarmaka.
Kemampuan memproduksi radioisotop di dalam negeri dinilai menjadi aset strategis karena mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri, terutama untuk radioisotop yang memiliki waktu paruh pendek.
Radioisotop yang diproduksi di antaranya Iodium-131 untuk terapi kanker tiroid, Samarium-153 untuk membantu meredakan nyeri akibat metastasis kanker tulang, Teknesium-99m untuk prosedur diagnostik kedokteran nuklir, serta Fluor-18 yang digunakan dalam pemeriksaan PET scan.
Radioisotop tersebut telah dimanfaatkan di sejumlah rumah sakit rujukan nasional, antara lain RSUP Nasional Dr Cipto Mangunkusumo, RS Kanker Dharmais, RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung, RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, RSUP Dr Soetomo Surabaya, dan RSUP Prof Dr R D Kandou Manado.
Penguatan Layanan dan Kemandirian Teknologi
Layanan kedokteran nuklir masih terkonsentrasi di kota-kota besar sehingga banyak pasien di daerah harus menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh diagnosis dan terapi.
Karakter radioisotop yang memiliki waktu paruh pendek juga menuntut proses produksi, distribusi, dan pemanfaatan dilakukan secara cepat, presisi, serta terkoordinasi.
Keberhasilan layanan kedokteran nuklir bergantung pada keterhubungan antara riset, produksi radiofarmaka, industri, logistik, rumah sakit, regulator, dan tenaga kesehatan.
Pandemi COVID-19 turut menunjukkan pentingnya kemandirian teknologi kesehatan untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok global.
Sebagai bagian dari transformasi kesehatan nasional, pemerintah memperkuat layanan kanker melalui perluasan fasilitas radiodiagnostik, radioterapi, dan kedokteran nuklir.
Pada 2023, Kementerian Kesehatan bersama Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) menandatangani Letter of Intent untuk menyusun peta jalan pengembangan kedokteran nuklir periode 2023–2027.
Peta jalan tersebut mencakup perluasan fasilitas, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, penguatan penjaminan mutu, serta pengembangan jaringan layanan kedokteran nuklir di berbagai daerah.
Selain di bidang kesehatan, teknologi nuklir juga dimanfaatkan untuk sterilisasi alat kesehatan, peningkatan keamanan pangan, pengawetan hasil pertanian, serta pengembangan varietas tanaman yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
- Penulis :
- Leon Weldrick





