HOME  ⁄  Nasional

Strategi Transisi Energi Indonesia Tetap Utamakan Dekarbonisasi Fosil demi Menjaga Keamanan Energi

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Strategi Transisi Energi Indonesia Tetap Utamakan Dekarbonisasi Fosil demi Menjaga Keamanan Energi
Foto: Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha dalam acara "Menjaga Pasokan Batu Bara untuk Kebutuhan Nasional" yang digelar di Jakarta, Selasa 7/7/2026 (sumber: ANTARA/Putu Indah Savitri)

Pantau - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha menegaskan strategi transisi energi Indonesia tidak menghapus penggunaan energi fosil secara bertahap, melainkan mengedepankan dekarbonisasi energi fosil sebagai upaya menekan emisi sekaligus menjaga keamanan energi nasional.

Satya menyampaikan strategi tersebut telah konsisten diterapkan Indonesia sejak masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Ia mengungkapkan, "Yang paling penting, strategi transisi Indonesia itu tidak phasing out fossil (penghapusan energi fosil secara bertahap), kita adalah dekarbonisasi fosil."

Menurut Satya, pada 2021 Perdana Menteri Inggris saat itu, Boris Johnson, meminta Indonesia melakukan penghapusan energi fosil secara bertahap.

Ia menjelaskan Presiden Joko Widodo saat itu tidak menyatakan akan menghapus energi fosil, melainkan hanya menyampaikan bahwa pemerintah akan melakukan perhitungan terlebih dahulu.

Satya menilai sikap tersebut sejalan dengan arah kebijakan transisi energi Indonesia yang mengutamakan dekarbonisasi energi fosil.

Dekarbonisasi Jadi Pilihan Pemerintah

Salah satu langkah dekarbonisasi yang akan dilakukan pemerintah adalah menerapkan teknologi carbon capture and storage (CCS) pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Satya mengungkapkan, "Kita memilih dekarbonisasi fosil karena yang kita utamakan di depan adalah energy security (keamanan energi)."

Ia menegaskan keamanan energi menjadi prioritas utama pemerintah dalam menjalankan transisi energi.

Menurut Satya, Indonesia memiliki sumber daya energi fosil yang melimpah sehingga strategi dekarbonisasi dinilai lebih tepat dibandingkan menghapus penggunaan energi fosil sepenuhnya.

Ia juga mengingatkan Indonesia tidak boleh mengalami krisis energi akibat transisi energi yang dilakukan terlalu cepat.

Satya mencontohkan pengalaman Inggris saat menghadapi persoalan pasokan energi di tengah perubahan bauran energi.

Ia mengungkapkan, "Saat Eropa mulai kekurangan gas, Inggris mau kembali ke nuklir. Tapi mengaktifkan nuklir tidak mudah, kembali ke batu bara juga tidak mudah. Akhirnya ada blackout di Inggris Utara. Ini kalau terjadi di Indonesia kan jadi lucu. Maka pilihan kita (dekarbonisasi fosil) tidak salah."

Batu Bara Masih Dipertahankan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah masih akan mempertahankan pemanfaatan batu bara untuk PLTU.

Menurut Bahlil, batu bara tetap diperlukan untuk menjaga efisiensi energi, stabilitas pasokan listrik, serta keterjangkauan tarif listrik bagi masyarakat.

Ia menilai Indonesia tidak dapat terburu-buru meninggalkan batu bara di tengah kebutuhan menjaga ketahanan energi nasional.

Bahlil menyebut Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa kembali membuka opsi pemanfaatan batu bara dan energi fosil untuk menjaga ketahanan energi domestik.

Ia menegaskan Indonesia harus mengutamakan efisiensi dan kepentingan nasional dalam menentukan arah kebijakan transisi energi.

Bahlil mengungkapkan, “Saya putuskan, saya bilang batu bara jalan aja dulu. Ini bicara tentang survival mode. Kita bicara tentang efisiensi. Jangan kita korbankan rakyat kita dengan harga listrik yang besar.”

Penulis :
Leon Weldrick