
Pantau - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menyatakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi siap menindaklanjuti permintaan Kementerian Kesehatan untuk mempercepat riset dan inovasi terhadap 11 reagen vaksin melalui skema proposal call atau pendanaan riset strategis.
Skema Pendanaan Difokuskan pada 11 Reagen Vaksin
Stella Christie mengatakan skema pendanaan riset saat ini telah mengalami perubahan dengan menyediakan alokasi khusus bagi riset strategis, termasuk pengembangan dan inovasi vaksin.
Menurutnya, pendanaan tersebut bertujuan mempercepat hilirisasi inovasi vaksin di Indonesia sekaligus memperkuat Program Imunisasi Nasional.
Ia mengungkapkan, "Artinya kita mempunyai yang kita bilang proposal call, jadi memanggil. Kalau sudah ditentukan oleh Pak Menteri, kita bisa menentukan kita akan sisihkan dana hanya untuk tadi mungkin sebelas itu. Lalu proposal yang masuk hanya untuk penelitian di sebelas itu."
Ia menjelaskan mekanisme tersebut memungkinkan pendanaan difokuskan hanya pada penelitian terhadap 11 reagen vaksin yang menjadi prioritas pemerintah.
Menurut Stella Christie, penetapan fokus pendanaan akan menciptakan persaingan yang lebih sehat dalam memperoleh dana riset.
Ia menilai hasil penelitian juga akan menjadi lebih baik karena pendanaan diarahkan pada target yang jelas.
Ia menegaskan, "Itu yang akan kita lakukan, segera menindaklanjuti yang diminta Pak Menteri."
Stella Christie juga menyebutkan anggaran riset di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto meningkat menjadi dua kali lipat.
Menurutnya, peningkatan anggaran tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam memajukan bangsa melalui pengembangan sains dan teknologi.
Kemenkes Dorong Produksi Vaksin Penuh di Dalam Negeri
Pada kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan Indonesia secara rutin menggunakan 15 antigen yang menjadi dasar produksi vaksin.
Dari 15 antigen tersebut diproduksi sebanyak 13 vaksin yang digunakan dalam Program Imunisasi Nasional.
Ia menjelaskan, "Antigen itu kayak apa? Bibit vaksinnya, bibit virusnya. Nah, dari 15 itu kita produksi 13 vaksin. Karena ada satu vaksin maksudnya kayak pentavalen, itu yang digabung-gabung antigennya ya. Beberapa antigen jadi satu vaksin."
Budi Gunadi Sadikin menjelaskan vaksin pentavalen merupakan vaksin yang menggabungkan beberapa antigen menjadi satu vaksin.
Ia menyebutkan baru empat dari 15 antigen yang digunakan di Indonesia telah dapat diproduksi dari hulu.
Sebanyak 11 antigen lainnya masih diproduksi melalui proses perakitan atau assembly.
Ia mengatakan, "Masih dipasang-pasang di tempel-tempel. Belum bener-bener full manufacturing."
Budi Gunadi Sadikin menegaskan Indonesia masih belum sepenuhnya mampu melakukan proses produksi vaksin secara penuh dari tahap awal hingga akhir untuk 11 antigen tersebut.
Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan meminta dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk mempercepat riset, inovasi, dan kemampuan produksi vaksin secara penuh di dalam negeri.
- Penulis :
- Arian Mesa





