
Pantau - ASEAN Foundation terus memperluas pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan menargetkan lebih dari 50 ribu UMKM di Indonesia mengikuti program AI for MSME Advancement in ASEAN (AIM ASEAN), sementara hingga saat ini lebih dari 16 ribu UMKM di Tanah Air telah mengikuti pelatihan tersebut.
Target Perluasan Pelatihan AI untuk UMKM
Program Manager AIM ASEAN ASEAN Foundation, Eci Ernawati, menyampaikan target tersebut dalam acara National Policy Convening Indonesia: Charting the Blueprint for AI-Inclusive Indonesia di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Eci Ernawati mengungkapkan, "Melalui AIM ASEAN, kami menargetkan lebih dari 100 ribu UMKM di seluruh ASEAN, termasuk lebih dari 50 ribu UMKM di Indonesia."
Ia juga mengatakan, "Hingga saat ini, lebih dari 16 ribu UMKM di Indonesia telah mengikuti pelatihan."
Program AIM ASEAN merupakan inisiatif regional ASEAN Foundation yang dijalankan selama dua tahun untuk membantu UMKM di Asia Tenggara memanfaatkan AI agar tumbuh lebih kuat, lebih efisien, dan lebih kompetitif.
Program tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Asian Venture Philanthropy Network (AVPN) serta didukung oleh Google.org dan Asian Development Bank (ADB).
Eci Ernawati menjelaskan AIM ASEAN dirancang agar teknologi AI lebih mudah diakses, dipahami, dan diterapkan oleh pelaku UMKM, khususnya di Indonesia.
ASEAN Foundation juga bekerja sama dengan berbagai ahli dan mitra lokal agar materi pelatihan sesuai dengan kebutuhan UMKM.
Materi pelatihan mencakup penerapan AI secara praktis sekaligus menekankan pentingnya penggunaan AI secara bertanggung jawab.
BINUS Ingatkan Pentingnya Literasi Digital
Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Bina Nusantara (BINUS), Profesor Derwin Suhartono, mengingatkan pentingnya literasi digital agar pemanfaatan AI dapat dilakukan secara aman dan bertanggung jawab.
Derwin Suhartono mengatakan, "Apa pun yang kita lakukan, yang kita input ke dalam AI sistem yang kita familiar sehari-hari, ada risiko di sana."
Menurut Derwin Suhartono, masyarakat perlu memahami cara kerja teknologi AI serta bagaimana sistem tersebut mengolah data yang dimasukkan oleh pengguna.
Ia menjelaskan setiap data atau informasi yang dimasukkan ke dalam layanan AI pada umumnya akan tersimpan di suatu sistem atau server yang lokasinya belum tentu diketahui oleh pengguna.
Derwin Suhartono menilai masih perlu dipetakan sejauh mana masyarakat memahami cara AI memproses masukan pengguna serta bagaimana AI berinteraksi dengan penggunanya.
Ia menegaskan pemahaman mengenai cara kerja AI harus disampaikan secara serius dan menyeluruh kepada masyarakat agar teknologi tersebut dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Sebagai contoh, Derwin Suhartono menyoroti konten viral Hari Pertama di Neraka di YouTube yang dinilainya mencerminkan penggunaan AI yang tidak bertanggung jawab karena mengangkat materi sensitif yang tidak pantas.
- Penulis :
- Shila Glorya





