
Pantau - Presiden Kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menerima penghargaan tertinggi Pemerintah Timor-Leste, Grande Colar da Ordem de Timor-Leste, dalam upacara yang digelar di Istana Kepresidenan Nicolau Lobato, Dili, Kamis (9/7/2026), sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya memperkuat hubungan persahabatan Indonesia dan Timor-Leste, mendorong dialog kedua negara, serta mendukung normalisasi hubungan bilateral setelah pemulihan kemerdekaan Timor-Leste.
Rangkaian acara dimulai sejak pagi di halaman Istana Kepresidenan dengan penyambutan melalui pertunjukan seni dan tarian adat Timor-Leste.
Megawati kemudian disambut langsung oleh Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta bersama Perdana Menteri Timor-Leste Kay Rala Xanana Gusmão.
Kepala Staf Kepresidenan Timor-Leste Henriqueta Maria da Silva membacakan dasar pemberian penghargaan yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2009 Timor-Leste.
Ramos-Horta Puji Peran Megawati dalam Demokrasi dan Hubungan Bilateral
Dalam pidatonya, Presiden José Ramos-Horta memuji peran Megawati pada masa transisi demokrasi Indonesia setelah Reformasi, khususnya sikapnya dalam menyikapi hasil Pemilu 1999.
"Ibu Megawati dengan tenang menerima keputusan konstitusional tersebut dan mengemban jabatan sebagai Wakil Presiden. Beliau menempatkan kepentingan demokrasi di atas aspirasi pribadi yang sah. Pilihan itu mewakili salah satu pembuktian tertinggi dari sikap negarawan sejati," ungkap Ramos-Horta.
Ramos-Horta juga menilai Megawati saat menjabat Presiden RI pada 2001 menerima realitas sejarah baru Timor-Leste, mendukung masa transisi Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations Transitional Administration in East Timor (UNTAET), serta membangun hubungan diplomatik yang kuat antara Indonesia dan Timor-Leste.
Di tengah pidatonya, Ramos-Horta mencairkan suasana dengan berkelakar bahwa Xanana Gusmão lulus dengan predikat summa cum laude dari "Universitas Cipinang".
Ramos-Horta menilai Megawati dan Xanana merupakan dua tokoh yang berperan besar dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Timor-Leste.
Usai pidato, Presiden José Ramos-Horta secara langsung menyematkan medali Grande Colar kepada Megawati.
Megawati Sebut Penghargaan Menjadi Amanat bagi Generasi Mendatang
Dalam pidato balasannya, Megawati membuka sambutan dengan ucapan "Bondia, Timor-Leste!"
Megawati menegaskan penghargaan tersebut bukan akhir dari perjalanan hubungan kedua negara, melainkan amanat yang harus terus dijaga oleh Indonesia dan Timor-Leste.
"Penghargaan Grand Collar ini bukan sekadar medali. Ini adalah sebuah mata rantai yang saling mengunci. Setiap mata rantai menopang mata rantai berikutnya. Bagi saya, di situlah maknanya: persahabatan Indonesia dan Timor-Leste adalah rantai yang harus terus memanjang—dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa pernah terputus," ujar Megawati.
Megawati mengajak generasi muda Indonesia dan Timor-Leste untuk menjaga hubungan persahabatan yang setara.
Dalam pidatonya, Megawati juga memanggil Kupa Lopez, anak muda asal Timor-Leste yang dahulu pernah meminta izin kepadanya untuk terjun ke dunia politik dan kini telah menjadi diplomat serta pernah menjabat sebagai Duta Besar Timor-Leste untuk Kamboja.
Megawati turut membandingkan perjuangan Xanana Gusmão yang dikenal sebagai Maun Xanana dengan perjuangan ayahnya, Bung Karno, yang menurutnya menghabiskan total 22 tahun keluar-masuk penjara dan pembuangan demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Pada akhir pidatonya, Megawati mengenang kunjungan pertamanya ke Dili dan mengaku tidak pernah melupakan pedasnya cabai rawit khas Timor-Leste.
Megawati mengatakan rasa cabai tersebut "lebih meledak dari bom".
"Tadi saya sudah berbisik-bisik kepada Pak Ramos-Horta dan Maun Xanana, sekarang saya sudah menyuruh staf saya pergi ke pasar Dili untuk membeli oleh-oleh, khusus membawa pulang cabai Timor-Leste itu," kata Megawati.
Pernyataan tersebut disambut tawa para tamu undangan.
Upacara penganugerahan ditutup dengan sesi foto bersama yang berlangsung dalam lima sesi bersama keluarga besar, pimpinan parlemen Timor-Leste, jajaran militer, jajaran kepolisian, serta para sekretaris jenderal partai politik Timor-Leste, termasuk CNRT, Fretilin, PD, PLP, dan KHUNTO.
- Penulis :
- Arian Mesa





