
Pantau - Kementerian Pekerjaan Umum menyatakan Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), memasok sumber air baku sebesar 0,15 meter kubik per detik yang meningkatkan cakupan pelayanan air minum bagi kurang lebih 100 ribu jiwa.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyampaikan hal tersebut saat melakukan kunjungan kerja ke Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat, NTB, pada Jumat, 10 Juli 2026.
Ia mengungkapkan, "Dari keterbatasan air saat kemarau menjadi ladang air baku sebesar 0,15 meter kubik per detik yang meningkatkan cakupan pelayanan air minum menjadi kurang lebih 100 ribu jiwa."
Bendungan Meninting merupakan satu dari lima bendungan yang diresmikan secara serentak bersama Bendungan Keureuto di Aceh, Bendungan Rukoh di Aceh, Bendungan Sidan di Bali, dan Bendungan Jlantah di Jawa Tengah.
Manfaat Air Baku dan Irigasi
Selain menyediakan air baku, Bendungan Meninting memiliki kapasitas tampung sekitar 10 juta meter kubik yang dimanfaatkan sepanjang tahun untuk memenuhi kebutuhan irigasi.
Bendungan tersebut mampu mengairi sekitar 1.500 hektare sawah di Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram.
Bendungan Meninting dilengkapi jaringan irigasi sepanjang kurang lebih 26 kilometer.
Sebelum adanya jaringan irigasi, lahan pertanian hanya mengandalkan air hujan.
Setelah adanya bendungan dan jaringan irigasi, lahan pertanian dapat ditanami hingga tiga kali dalam satu tahun.
Produktivitas lahan pertanian mencapai 6,3 ton per hektare.
Dody Hanggodo menegaskan, "Pekerjaan irigasi terus kami lakukan untuk memastikan agar air benar-benar sampai kepada lahan pertanian."
Menurut Dody Hanggodo, keberhasilan pembangunan bendungan tidak lagi hanya diukur dari selesainya konstruksi, tetapi dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
Pengendalian Banjir dan Potensi Pengembangan
Bendungan Meninting juga berfungsi sebagai pengendali banjir bagi Kecamatan Gunungsari, Kecamatan Lingsar, Kecamatan Batu Layar di Kabupaten Lombok Barat, serta Kecamatan Ampenan di Kota Mataram.
Bendungan Meninting memiliki tinggi 74 meter dengan panjang puncak mencapai 260 meter.
Bendungan ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung, kawasan pariwisata, serta pengembangan ekonomi kerakyatan.
Dody Hanggodo menegaskan, “Bendungan wajib berfungsi memberikan manfaat maksimal untuk petani dan seluruh masyarakat. Air harus mengalir, sawah wajib terairi, dan manfaat harus dijaga.”
- Penulis :
- Shila Glorya





