
Pantau - Komisi VI DPR RI mendorong penguatan industri farmasi nasional guna mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat yang saat ini masih mencapai sekitar 95 persen, melalui penguatan riset, investasi, dan penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
DPR Soroti Ketergantungan Impor Bahan Baku Obat
Ketua Komisi VI DPR RI Anggia Erma Rini menyampaikan hal tersebut saat memimpin kunjungan kerja spesifik ke industri farmasi BUMN di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (10/7).
Menurut Anggia, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan bahan baku obat dari kekayaan hayati yang dimiliki sehingga perlu didukung penelitian secara berkelanjutan.
"95 persen sekarang bahan baku kan masih impor. Oleh karena itu harus ada penelitian-penelitian yang terus-menerus supaya kita nggak terus selalu impor. Harus berdaulat obat, farmasi di Indonesia," ungkap Anggia.
Ia menilai industri farmasi nasional memiliki peluang berkembang lebih besar karena didukung pasar domestik yang luas serta ketersediaan sumber daya alam.
Dorong TKDN dan Dukungan Investasi
Anggia menekankan sejumlah langkah yang perlu dilakukan untuk memperkuat kemandirian farmasi nasional, mulai dari penggunaan obat produksi dalam negeri, penguatan permodalan untuk pembangunan pabrik dan laboratorium, hingga penerapan TKDN di sektor farmasi.
Ia menegaskan penerapan TKDN bersifat wajib dan membutuhkan koordinasi yang lebih baik antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perindustrian.
"Kalau menurut saya itu kan wajib, itu mandatory. Jadi harus ada koordinasi yang lebih bagus antara Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Perindustrian supaya matching," ujarnya.
Komisi VI DPR RI juga menyatakan optimistis pengelolaan investasi melalui Danantara dapat mempercepat penguatan industri farmasi BUMN sehingga Indonesia secara bertahap mampu mengurangi ketergantungan impor dan mewujudkan kedaulatan bahan baku obat nasional.
- Penulis :
- Aditya Yohan





