
Pantau - Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan memiliki 56 fasilitas pengelolaan sampah organik sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah dari sumber dan mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
Fasilitas tersebut terdiri atas empat teba modern dan 52 lubang biopori jumbo sebagai tindak lanjut pelaksanaan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
Pemilahan Sampah Diperkuat dari Sumber
Camat Kebayoran Lama Mustofa mengatakan masyarakat diwajibkan melakukan pemilahan dan pengolahan sampah secara mandiri dari sumbernya.
"Untuk wilayah Kebayoran Lama Selatan sudah dibangun empat teba modern dan 52 lubang biopori jumbo. Untuk itu, masyarakat diwajibkan melakukan pemilahan dan pengolahan sampah secara mandiri dari sumbernya," ujarnya.
Menurut Mustofa, kebijakan tersebut sejalan dengan rencana pembatasan pembuangan sampah ke TPST Bantargebang yang nantinya hanya menerima sampah residu.
Ia berharap keberadaan puluhan fasilitas tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sekaligus memanfaatkan sampah organik agar tidak seluruhnya berakhir di TPST Bantargebang.
Selain teba modern dan lubang biopori jumbo, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan juga memiliki satu unit mesin pencacah sampah milik Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan.
"Mesin tersebut dimanfaatkan untuk mempermudah proses pemilahan sampah sesuai dengan jenisnya," ungkap Mustofa.
Bank Sampah dan Eco-Enzyme Didorong
Mustofa menjelaskan sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, dan sampah basah lainnya dimasukkan ke dalam lubang biopori untuk diolah secara alami.
"Jenis sampah yang dimasukkan ke dalam biopori adalah sampah organik, seperti sisa makanan, kulit buah, dan sampah basah lainnya. Sedangkan, sampah yang dapat didaur ulang akan dipilah dan diambil oleh petugas Sudin LH. Bank Sampah di setiap RW juga sudah aktif beroperasi," katanya.
Ketua RW 11 Kelurahan Kebayoran Lama Selatan Nasir menilai kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam mengatasi persoalan sampah di lingkungan.
"Pembangunan sarana pengelolaan sampah perlu diimbangi dengan sosialisasi yang masif agar kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari sumber semakin meningkat," ujarnya.
Nasir mengatakan pihak RW 11 juga telah mempelajari inovasi pembuatan eco-enzyme dari limbah organik yang dinilai mampu membantu menguraikan sisa makanan sekaligus mengurangi aroma tidak sedap dari sampah organik.
"Kami berharap seluruh RW dapat menerapkan inovasi eco-enzyme sehingga pengelolaan sampah organik semakin optimal dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat," tuturnya.
- Penulis :
- Gerry Eka





