HOME  ⁄  Nasional

APINDO Nilai Indonesia Open Network Percepat Digitalisasi dan Perluas Akses Pasar UMKM

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

APINDO Nilai Indonesia Open Network Percepat Digitalisasi dan Perluas Akses Pasar UMKM
Foto: (Sumber :Arsip - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani dalam jumpa pers di Markas Pusat PMI Jakarta, Senin (22/12/2025). (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafir)

Pantau - Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menyatakan Indonesia Open Network (ION) dapat menjadi solusi untuk mempercepat digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui perluasan akses pasar serta penurunan biaya integrasi ke dalam ekosistem perdagangan digital.

Interoperabilitas Jadi Kunci Ekonomi Digital

Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani mengatakan interoperabilitas menjadi faktor penting dalam mendorong perkembangan ekonomi digital Indonesia.

Ia mengungkapkan, "Interoperabilitas merupakan kunci menuju tahap berikutnya dalam perkembangan ekonomi digital Indonesia."

Shinta menjelaskan APINDO bekerja sama dengan ION untuk memperluas partisipasi pelaku usaha sekaligus mempercepat pemanfaatan jaringan digital terbuka di berbagai sektor industri.

ION merupakan program nasional yang diluncurkan di Jakarta pada 7 Juli 2026 dan menjadi salah satu agenda strategis dalam kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada 7–8 Juli 2026.

Program tersebut merupakan implementasi nota kesepahaman Indonesia dan India yang ditandatangani pada Januari 2025 untuk mengembangkan Digital Public Infrastructure, kecerdasan buatan, dan inovasi digital.

Buka Peluang UMKM Masuk Ekosistem Digital

Shinta yang juga menjabat Ketua Dewan Penasihat Indonesia Open Network mengatakan ION menghadirkan infrastruktur digital bersama yang memungkinkan berbagai pelaku usaha terhubung tanpa bergantung pada satu platform.

Ia mengatakan, "ION membangun infrastruktur bersama yang menurunkan hambatan inovasi, mengurangi biaya usaha, dan membuka peluang bagi perusahaan dari berbagai skala untuk berkembang dalam perdagangan digital."

Menurutnya, digitalisasi UMKM masih menghadapi tantangan berupa fragmentasi marketplace, tingginya biaya integrasi teknologi, keterbatasan akses logistik dan pembiayaan, serta mahalnya biaya memperoleh pelanggan.

Melalui jaringan terbuka tersebut, pelaku usaha hanya perlu melakukan satu kali integrasi untuk terhubung dengan berbagai platform, layanan logistik, sistem pembayaran, lembaga keuangan, dan aplikasi bisnis dalam satu ekosistem nasional.

Ia menambahkan, "Model tersebut diharapkan dapat mengurangi biaya integrasi teknologi, mendorong inovasi, menciptakan persaingan yang sehat, dan memberikan pilihan yang lebih luas kepada pelaku usaha maupun konsumen."

Penulis :
Ahmad Yusuf