
Pantau - Sekitar 1.000 warga Kota Palembang, Sumatera Selatan, mengikuti parade kebaya di Jembatan Ampera dalam rangka memperingati Hari Kebaya Nasional 2026 yang digelar bersamaan dengan kegiatan Car Free Day pada Minggu pagi.
Para peserta yang didominasi perempuan mengenakan kebaya dipadukan dengan kain songket khas Palembang dan berjalan dari Jembatan Ampera menuju Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) sejak pukul 06.30 WIB.
Parade Kebaya Dorong Pemberdayaan Perempuan dan UMKM
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Perempuan Indonesia Maju (PIM) Lana T Koentjoro mengatakan parade tersebut bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga menjadi gerakan pemberdayaan ekonomi.
"Gerakan berkebaya berjalan kaki dari Jembatan Ampera menuju Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Kota Palembang ini secara nyata memperkuat ekonomi keluarga melalui pemberdayaan perempuan," ungkap Lana.
Ia menambahkan Hari Kebaya Nasional juga menjadi momentum untuk menggerakkan pelaku usaha kecil di berbagai sektor.
"Dari kebaya ini kita telah mengangkat seluruh UMKM Indonesia. Mulai dari selop, kain ganding, hingga jasa MUA. Saya sendiri bersanggul dan berdandan subuh-subuh menggunakan berbagai aksesori," katanya.
Targetkan Rekor MURI dan Promosikan Budaya
Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Nannie Hadi Tjahjanto mengapresiasi penyelenggaraan parade yang menargetkan Rekor MURI untuk kategori perempuan berkebaya dengan kain songket terbanyak.
"Ini suatu kebanggaan buat saya tersendiri yang mana kebaya sudah dikenalkan di UNESCO. Tentu kita sebagai generasi penerus harus melestarikannya," ujarnya.
Nannie juga memuji dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, BKOW, Dekranasda, dan jajaran pemerintah daerah dalam memadukan kebaya dengan kain songket sebagai upaya memperkuat promosi budaya dan pariwisata daerah.
"Inisiatif ini sangat visioner dan menjadi inspirasi bagi seluruh daerah di Indonesia untuk mengangkat warisan budaya khas masing-masing, baik batik maupun tenun," ungkapnya.
- Penulis :
- Gerry Eka





