HOME  ⁄  Nasional

MKTI Sulawesi Selatan Ajak Semua Pihak Bersatu Selamatkan Hutan dari Ancaman Deforestasi

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

MKTI Sulawesi Selatan Ajak Semua Pihak Bersatu Selamatkan Hutan dari Ancaman Deforestasi
Foto: Ketua Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI) Sulawesi Selatan Prof Dr Yusran Yusuf yang juga Guru Besar Universitas Hasanuddin menyoroti kondisi hutan Sulsel yang semakin kritis.

Pantau - Ketua Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI) Sulawesi Selatan Prof. Dr. Yusran Yusuf mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan penyelamatan hutan sebagai gerakan bersama untuk menghadapi kondisi hutan di Sulawesi Selatan yang dinilai semakin memprihatinkan.

Yusran menyampaikan kolaborasi multipihak diperlukan sebagai respons terhadap alih fungsi lahan, perambahan, kebakaran hutan, dan degradasi daerah aliran sungai yang terus mengancam kawasan hutan.

Kondisi Hutan Sulsel Dinilai Mengkhawatirkan

Yusran mengatakan, "Hutan harus diselamatkan melalui kolaborasi multipihak sebagai respons terhadap alih fungsi lahan, perambahan, kebakaran hutan, dan degradasi daerah aliran sungai (DAS)," ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulawesi Selatan, luas kawasan hutan di provinsi tersebut mencapai 1.991.144 hektare dengan tutupan hutan yang tersisa sekitar 1.434.185 hektare sehingga sekitar 556.959 hektare telah kehilangan tutupan vegetasi.

Data tersebut juga mencatat sekitar 181.385,77 hektare hutan beralih fungsi menjadi kawasan nonhutan selama periode 1990 hingga 2016 dengan Kabupaten Luwu Timur menjadi wilayah dengan tingkat deforestasi terbesar.

Konservasi Dinilai Penting untuk Ketahanan Pangan

Yusran mengingatkan kerusakan hutan dapat meningkatkan risiko banjir, longsor, penurunan kualitas tanah, serta mengganggu produktivitas sektor pertanian.

Ia mengatakan, "Sekitar 95 persen kebutuhan pangan manusia berasal dari tanah, sehingga menjaga kualitas tanah dan kelestarian hutan merupakan fondasi utama ketahanan pangan," ujarnya.

MKTI Sulawesi Selatan mengajak pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, masyarakat adat, dan komunitas lokal memperkuat kolaborasi melalui rehabilitasi lahan kritis, perlindungan kawasan hutan, pengendalian alih fungsi lahan, edukasi konservasi, serta penegakan hukum terhadap pelaku perusakan hutan.

Yusran mengatakan, "Konservasi tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata dan kolaborasi lintas sektor demi generasi mendatang," tegasnya.

Penulis :
Gerry Eka