HOME  ⁄  Nasional

Proyek E10 Dinilai Berpotensi Kurangi Impor BBM dan Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Proyek E10 Dinilai Berpotensi Kurangi Impor BBM dan Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Foto: Petani menggunakan alat berat memindahkan tebu saat panen raya di kawasan Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).

Pantau - Rencana pemerintah menerapkan bensin campuran bioetanol 10 persen atau E10 dinilai berpotensi mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM) melalui pemanfaatan energi terbarukan berbasis bahan baku dalam negeri.

Managing Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna mengatakan pemanfaatan bioetanol dapat menekan konsumsi bensin berbasis fosil, meski tetap perlu diiringi percepatan penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai dan peningkatan penggunaan transportasi umum.

E10 Dinilai Jadi Langkah Diversifikasi Energi

Putra mengatakan, “Jika hanya penerapan bioetanol hanya menggantikan sekitar 5–10 persen konsumsi bensin. Sementara itu pertumbuhan kendaraan berbahan bakar fosil tetap saja tanpa diimbangi percepatan adopsi kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) maupun transportasi umum, maka 90–95 persen kebutuhan BBM tetap bergantung pada impor,” katanya.

Ia menilai kebijakan E10 merupakan langkah penting dalam diversifikasi energi nasional karena semakin besar pemanfaatan bioetanol produksi dalam negeri, semakin besar peluang Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.

Putra menyarankan pembangunan pabrik bioetanol diprioritaskan di wilayah yang memiliki sumber bahan baku seperti Jawa Timur dan Lampung agar biaya logistik lebih efisien.

Ia juga mengatakan, “Di sisi lain, pemerintah perlu berhati-hati apabila mempertimbangkan ekspansi ke wilayah seperti Papua, mengingat risiko deforestasi yang dapat ditimbulkan dari pembukaan lahan baru,” sarannya.

Pemerintah Diminta Perkuat Produksi dan Edukasi

Putra menilai pemerintah perlu meningkatkan kapasitas produksi bioetanol nasional secara bertahap dari sekitar 70 ribu kiloliter menjadi 1,5 juta kiloliter untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menurutnya, pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan tanpa mengganggu ketahanan pangan serta mengedepankan pemanfaatan lahan yang sudah ada untuk meminimalkan dampak lingkungan.

Putra mengatakan, “Transparansi dalam proses pengambilan keputusan harus menjadi prioritas. Selain itu, masyarakat perlu mendapatkan edukasi bahwa bensin campuran bioetanol memiliki kandungan energi yang lebih rendah sehingga konsumsi bahan bakarnya dapat sedikit lebih boros,” katanya.

Ia menambahkan edukasi kepada masyarakat mengenai karakteristik bensin campuran bioetanol serta penetapan harga yang kompetitif menjadi faktor penting untuk meningkatkan penerimaan pasar terhadap program E10.

Penulis :
Gerry Eka