HOME  ⁄  Nasional

BPW Indonesia Menyebut Hari Anak Nasional Jadi Pengingat Anak Merupakan Prioritas Pembangunan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

BPW Indonesia Menyebut Hari Anak Nasional Jadi Pengingat Anak Merupakan Prioritas Pembangunan
Foto: (Sumber :Seorang anak berada di depan reruntuhan bangunan yang terdampak proyek normalisasi Kali Ciliwung di Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (13/7/2026). ANTARA FOTO/Fauzan/nym..)

Pantau - Federasi Business and Professional Women (BPW) Indonesia menyatakan Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati setiap 23 Juli menjadi pengingat bahwa anak merupakan prioritas pembangunan untuk menentukan arah masa depan Indonesia.

Presiden Federasi BPW Indonesia Giwo Rubianto mengatakan Hari Anak Nasional bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi momentum untuk menegaskan pentingnya pembangunan manusia sejak usia dini.

Ia mengatakan, “Karena itu, pembangunan manusia harus menjadi prioritas dengan mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan nilai-nilai luhur.”

Anak Harus Menjadi Pusat Pembangunan

Giwo menilai anak perlu menjadi pusat perhatian dalam setiap kebijakan dan pembangunan bangsa berdasarkan pengalamannya di bidang pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pendidikan, dan pembangunan masyarakat.

Ia mengatakan, “Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa kualitas bangsa di masa depan ditentukan oleh bagaimana kita menyayangi, melindungi, dan mempersiapkan generasi penerus sejak hari ini.”

Menurutnya, Hari Anak Nasional ke-42 Tahun 2026 menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen bersama agar setiap anak memperoleh kasih sayang, perlindungan, pendidikan berkualitas, dan kesempatan yang setara untuk tumbuh sesuai potensinya.

Ia menyebut hal tersebut sejalan dengan prinsip Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) yang menjamin hak anak untuk hidup, tumbuh, berkembang, memperoleh perlindungan dari segala bentuk kekerasan, serta dihargai suaranya.

Perlindungan Anak Perlu Diperkuat

Giwo mengingatkan pentingnya menciptakan ruang aman, penuh kasih sayang, penghargaan, dan keteladanan yang dimulai dari lingkungan keluarga.

Ia menegaskan perhatian khusus harus diberikan kepada anak yang berada dalam kondisi rentan, termasuk korban kekerasan, perundungan, eksploitasi, penelantaran, anak yang berhadapan dengan hukum, maupun anak yang membutuhkan pendampingan khusus.

Ia mengatakan, “Mereka bukan untuk disalahkan, melainkan harus didengar, didampingi, dipulihkan, dan diberikan kesempatan yang sama untuk tumbuh serta meraih masa depan yang lebih baik melalui upaya pencegahan kekerasan, penyediaan ruang pengaduan yang aman, pendampingan bagi korban, serta kolaborasi seluruh pihak dalam memastikan perlindungan dan pemenuhan hak anak.”

Giwo juga mengajak keluarga, pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, organisasi masyarakat, media, dan seluruh elemen bangsa untuk membangun ekosistem yang aman, sehat, inklusif, dan ramah anak.

Ia mengatakan, “Anak-anak yang tumbuh dengan kasih sayang, perlindungan, dan pendidikan karakter akan menjadi generasi yang mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih maju dan bermartabat.”

Penulis :
Ahmad Yusuf