
Pantau - Pakar energi Universitas Indonesia Ali Ahmudi Achyak menilai bioetanol berbahan baku sorgum memiliki harga yang lebih kompetitif dibandingkan bioetanol yang diproduksi dari tebu, jagung, maupun singkong karena biaya pengembangannya dinilai lebih rendah.
Sorgum Dinilai Lebih Murah untuk Bioetanol
Ali mengatakan harga bioetanol dari sorgum lebih kompetitif karena pemanfaatannya tidak bersaing dengan kebutuhan sektor pangan.
Ia mengatakan, “Kalau dibandingkan, misalnya jagung atau tebu atau singkong dengan sorgum, tentu sorgum pastinya lebih murah.”
Menurut Ali, sorgum dapat dibudidayakan di lahan kritis yang tidak cocok untuk tanaman pangan sehingga biaya pengembangannya lebih efisien.
Ia mengatakan, “Bibitnya pun tidak semahal bibit jagung.”
Usulkan Insentif untuk Pengembangan Ekosistem
Ali menilai harga bioetanol dari sorgum masih lebih tinggi dibandingkan bahan bakar minyak berbasis fosil sehingga diperlukan berbagai insentif untuk memperkecil selisih harga.
Ia mengusulkan pemberian subsidi bibit, subsidi pupuk, serta dukungan penelitian agar terbentuk ekosistem bioetanol berbasis sorgum yang terintegrasi.
Ia mengatakan, “Nanti terbentuk ekosistemnya, mulai dari pengelolaan lahan, bibit, pupuknya, tata niaganya, termasuk juga komunitas petani yang bersedia menanam sorgum.”
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menargetkan penerapan campuran etanol 10 persen dalam bahan bakar minyak atau E10 mulai 2027 sebagai tahap awal menuju penerapan E20 secara bertahap pada 2028 hingga 2029 untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin.
- Penulis :
- Gerry Eka





