
Pantau - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan berhasil menghidupkan kembali ruang interaksi di lingkungan satuan pendidikan setelah menerbitkan Surat Edaran (SE) Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai yang membuat murid tidak lagi sibuk menatap layar telepon genggam saat waktu istirahat sehingga interaksi antarmurid kembali meningkat.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menjelaskan kebijakan tersebut diterbitkan untuk membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang sehat sejak usia dini.
Fajar mengatakan pembatasan penggunaan gawai bertujuan agar murid tidak bergantung pada telepon genggam dan menjadikannya hanya sebagai alat pendukung pembelajaran.
Ia mengungkapkan, "Kami di Kementerian telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai. Tujuannya agar murid dikontrol dan dibiasakan tidak bergantung pada handphone, sehingga sejak usia dini mereka terbiasa bahwa handphone itu hanya sebagai alat pendukung, sehingga tidak ada ketergantungan yang berlebihan terhadap penggunaan gawai."
Fajar menilai kebijakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental murid di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Empat Pilar Pendidikan Perlu Disinergikan
Fajar mengingatkan pendidikan selama ini mengenal konsep Tri Pusat Pendidikan yang terdiri atas keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Ia menambahkan kini terdapat satu unsur tambahan sehingga menjadi empat pilar pendidikan yang harus disinergikan dalam satu ekosistem pendidikan.
Ia mengungkapkan, "Pendidikan mengenal konsep Tri Pusat Pendidikan, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Sekarang ada tambahannya, ada empat pilar pendidikan yang harus kita sinergikan sebagai satu ekosistem."
Sekolah Dukung Pembatasan dengan Aturan Penggunaan Gawai
Pada kesempatan berbeda, Kepala SMP Bumi Cendekia, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Wisnu Utomo, menyampaikan sekolahnya tidak melarang murid membawa laptop maupun telepon genggam ke sekolah.
Wisnu menjelaskan laptop hanya digunakan satu hari dalam satu pekan, sedangkan telepon genggam hanya digunakan sesuai kebutuhan pembelajaran dan berada di bawah pengawasan guru.
Ia mengatakan ketika dahulu laptop digunakan hampir setiap hari, konsentrasi belajar murid lebih mudah terpecah dan guru membutuhkan waktu lebih lama untuk memulai pembelajaran karena murid masih sibuk menggunakan perangkat mereka.
Wisnu menegaskan sekolah mendukung penuh SE Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 karena inti kebijakan tersebut adalah membangun etika penggunaan gawai.
Ia mengungkapkan, "Kami mendukung penuh SE Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026. Yang paling penting bukan melarang gawainya, tetapi membangun etika menggunakannya. Harapan kami, yang membatasi penggunaan HP bukan sekolah atau orang tua, melainkan kesadaran anak itu sendiri."
Wisnu menilai setelah pembatasan penggunaan laptop dan telepon genggam diterapkan, murid menjadi lebih siap mengikuti pelajaran saat guru masuk kelas.
Ia juga melihat murid lebih banyak berinteraksi dengan teman, lebih aktif berolahraga, serta semakin sering memanfaatkan waktu luang untuk membaca buku.
Teknologi Tetap Dimanfaatkan untuk Pembelajaran
Guru Bahasa Indonesia SMP Bumi Cendekia, Triana Ratnasari, mengatakan teknologi tetap menjadi bagian dari proses pembelajaran, termasuk saat murid mempelajari materi drama melalui tayangan di YouTube.
Triana menegaskan sekolah tetap memanfaatkan teknologi sebagai sumber belajar dengan menekankan kemampuan murid mengolah informasi dan menyampaikan pendapat sendiri.
Ia mengungkapkan, "Anak-anak tetap memanfaatkan teknologi sebagai sumber belajar. Yang kami latih adalah bagaimana mereka mengolah informasi dan menyampaikan pendapatnya sendiri, bukan bergantung pada teknologi."
Triana menambahkan murid juga telah mengenal kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), namun karena penggunaan gawai dibatasi dan sebagian besar tugas dikerjakan di sekolah, pemanfaatan AI menjadi lebih terarah sebagai pendukung proses pembelajaran, bukan sekadar untuk menyelesaikan tugas secara instan.
- Penulis :
- Shila Glorya



