
Pantau - Kongres Wanita Indonesia (Kowani) meluncurkan gerakan nasional untuk mendukung pencalonan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO melalui penguatan ketahanan pangan, pemberdayaan perempuan, dan hilirisasi pangan lokal sebagai bagian dari empat gerakan strategis menuju usia ke-100 Kowani pada 2028.
Ketua Umum Kowani Nannie Hadi Tjahjanto mengatakan empat gerakan tersebut disiapkan untuk memperluas kontribusi perempuan dalam pembangunan nasional.
Ia mengungkapkan, "Hari ini Kowani meluncurkan empat gerakan strategis nasional yang saling terintegrasi sebagai fondasi memasuki abad kedua perjuangan dan peradaban perempuan Indonesia."
Empat gerakan strategis yang diluncurkan meliputi Kick-Off Festival Panen Raya Kowani untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, Kick-Off Kowani Car Free Day melalui Fun Walk Gerakan Nasional Tempe Goes to UNESCO pada 9 Agustus, pengembangan Pamong Pramuka Kowani sebagai gerakan kaderisasi pembentukan karakter pada 14 Agustus, serta transformasi digital melalui laman resmi dan portal Ruang Perempuan.
Festival Panen Raya Jadi Awal Pemberdayaan Perempuan
Nannie menjelaskan Festival Panen Raya menjadi langkah awal membangun ekosistem pemberdayaan perempuan berbasis ketahanan pangan.
Ia menegaskan Kowani tidak ingin kegiatan tersebut berhenti sebagai acara seremonial.
Ia mengatakan, "Kami tidak ingin berhenti pada seremoni. Kami ingin membangun sistem, membangun model, dan membangun bukti keberhasilan."
Kowani akan mengembangkan desa binaan sebagai percontohan pemberdayaan perempuan yang menjadi model penguatan ketahanan keluarga, pembangunan desa, dan ekonomi rakyat.
Model tersebut diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
Program desa binaan mencakup penguatan kelompok wanita tani, penguatan koperasi, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hilirisasi pangan lokal, penerapan teknologi tepat guna, pengembangan ekonomi hijau, serta pengembangan ekonomi sirkular.
Nannie menyampaikan ketahanan pangan dipilih sebagai fokus awal karena berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat, kesejahteraan keluarga, keberlangsungan petani dan nelayan, serta penguatan ekonomi masyarakat.
Ia menambahkan perempuan memiliki peran penting dalam seluruh rantai pangan mulai dari produksi pangan, pengolahan hasil pertanian, pengelolaan konsumsi keluarga, hingga pengelolaan usaha pangan.
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pangan, perempuan mencakup 41,7 persen tenaga kerja pertanian, lebih dari 30 persen terlibat dalam pengelolaan lahan pertanian dan pekarangan, serta lebih dari 60 persen berperan dalam penyediaan pangan keluarga.
Ia mengungkapkan, "Ketahanan pangan bukan sekadar memastikan pangan tersedia, ketahanan pangan adalah memastikan setiap keluarga memperoleh pangan yang sehat, bergizi, aman, terjangkau, dan berkelanjutan."
Tempe Didorong Menjadi Warisan Budaya Dunia
Mengenai Gerakan Tempe Goes to UNESCO, Nannie mengatakan Kowani memberikan dukungan karena tempe bukan hanya pangan tradisional Indonesia, tetapi juga menjadi penopang banyak pelaku UMKM perempuan.
Ia mengatakan, "Tempe pun kita harapkan menjadi tempe yang diakui dunia sebagai kearifan lokal, menjadi warisan budaya tak benda oleh UNESCO."
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Pangan Kasan yang hadir mewakili Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan pemberdayaan perempuan merupakan bagian penting dalam memperkuat sistem pangan nasional.
Ia mengatakan, "Tidak ada negara yang mampu membangun ketahanan pangan yang kokoh apabila perempuan masih menghadapi keterbatasan akses terhadap lahan, pembiayaan, teknologi, pendidikan, maupun pasar."
Kasan menjelaskan hilirisasi diperlukan agar hasil pertanian tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha.
Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan mengapresiasi Gerakan Tempe Indonesia Goes to UNESCO karena dinilai mampu memperkuat diplomasi pangan Indonesia sekaligus memperkenalkan pengetahuan tradisional dan kearifan lokal kepada masyarakat dunia.
Ia mengungkapkan, "Tempe adalah hasil inovasi budaya nusantara yang menggabungkan ilmu pengetahuan tradisional, kearifan lokal, nilai kesehatan, serta keberlanjutan lingkungan. Oleh sebab itu upaya mendorong tempe sebagai warisan budaya tak benda UNESCO bukan semata-mata pengakuan internasional tapi juga strategi memperkuat diplomasi pangan Indonesia di tingkat global."
Pelaksana Tugas Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Popy Rufaidah mendorong Kowani menjadikan Festival Panen Raya sebagai gerakan penyerapan produk petani lokal dengan harga yang layak.
Popy juga mendorong agar UMKM binaan Kowani menjadi pemasok bahan pangan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, pangan lokal terus dikembangkan, koperasi perempuan diperkuat, serta pekarangan pangan dikembangkan hingga tingkat desa.
Ia menyampaikan cadangan beras pemerintah per 1 Juli 2026 telah mencapai 5,17 juta ton, sementara proyeksi produksi beras nasional periode Januari–Agustus 2026 diperkirakan mencapai 25,28 juta ton.
Pemerintah juga menargetkan pembentukan 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dengan sekitar 35.000 koperasi mulai beroperasi pada Agustus 2026 sebagai simpul distribusi pangan dan penyerap hasil panen di tingkat desa.
- Penulis :
- Arian Mesa



