HOME  ⁄  Nasional

Gubernur NTT Menilai FTZ Indonesia-Timor Leste Jadi Momentum Strategis untuk Mendorong Ekonomi Perbatasan

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Gubernur NTT Menilai FTZ Indonesia-Timor Leste Jadi Momentum Strategis untuk Mendorong Ekonomi Perbatasan
Foto: Gubernur NTT Melki Laka Lena (sumber: Humas Pemprov NTT)

Pantau - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena menilai pembentukan Free Trade Zone (FTZ) Indonesia-Timor Leste menjadi momentum strategis untuk menjadikan kawasan perbatasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu mendorong perdagangan, investasi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kedua negara.

Persiapan FTZ Ditargetkan Rampung pada 2026-2027

Melki mengatakan potensi ekonomi lintas batas antara NTT dan Timor Leste harus dimanfaatkan secara maksimal karena didukung posisi geografis yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

“Lintas batas antara NTT dan Timor Leste yang menjanjikan secara ekonomi ini harus kita optimalkan secara baik dan kita eksekusi dengan baik untuk menjadi kawasan yang benar-benar bisa mendatangkan manfaat secara ekonomi bagi Timor Leste dan NTT,” ungkapnya.

Pemerintah Provinsi NTT menargetkan seluruh persiapan teknis menuju pembentukan FTZ dapat diselesaikan pada 2026 atau paling lambat 2027 dengan tetap menunggu regulasi dari pemerintah pusat.

Melki menjelaskan pembentukan kawasan perdagangan bebas memerlukan tahapan hukum dan administratif sehingga prosesnya tidak dapat dilakukan secara instan.

Pemerintah daerah saat ini memfokuskan langkah pada penyusunan pra-studi kelayakan, pengumpulan data dasar, penentuan batas kawasan perdagangan bebas, penyusunan model ekonomi, serta identifikasi kebutuhan infrastruktur.

Konsolidasi juga dilakukan bersama pemerintah kabupaten di wilayah perbatasan, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan pemerintah pusat sebagai bagian dari koordinasi persiapan FTZ.

“Kami tidak ingin tergesa-gesa tanpa dasar yang kuat, tetapi kami juga tidak boleh berhenti pada wacana,” tegas Melki.

Melki menyampaikan komunikasi dengan Pemerintah Timor Leste selama ini berjalan baik dan mendapat respons positif terhadap gagasan pembentukan FTZ yang diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi kedua negara.

Dorong Hilirisasi Komoditas dan Peningkatan Kesejahteraan

Pemerintah bersama pemerintah kabupaten di wilayah perbatasan terus melakukan berbagai persiapan konkret, termasuk membahas lokasi kawasan perdagangan bebas yang akan dikembangkan.

Melki menilai keberhasilan FTZ tidak hanya ditentukan oleh kesiapan infrastruktur, tetapi juga bergantung pada kesiapan regulasi serta kesiapan masyarakat sebagai pelaku utama kegiatan ekonomi.

Pemerintah terus memberikan edukasi kepada masyarakat agar mampu beradaptasi dengan peningkatan skala ekonomi dan memenuhi standar perdagangan antarnegara.

“Masyarakat juga sekarang kami dorong terus untuk diberi edukasi karena nanti masyarakat juga itu sebagai subjek sekaligus bagian yang akan menikmati dan menggerakkan FTZ ini. Mereka harus benar-benar siap dengan berbagai kemungkinan. Kita akan naikkan skala ekonomi kita, naik cara mengurus ekonomi kita, standar kita naik menjadi standar antar negara nantinya,” kata Melki.

Menurut Melki, FTZ tidak hanya bertujuan membuka arus keluar-masuk barang antarnegara, tetapi juga mengubah kawasan perbatasan yang selama ini dipandang sebagai wilayah belakang menjadi beranda depan Indonesia sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Ia menilai NTT harus keluar dari pola lama yang hanya menjual komoditas mentah dengan mendorong pengolahan berbagai komoditas unggulan di dalam daerah agar memiliki nilai tambah.

Komoditas yang didorong untuk diolah di dalam daerah meliputi sapi, jambu mete, kopi, rumput laut, tenun, serta berbagai hasil pertanian lainnya guna menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Melki mengatakan NTT memiliki prasyarat yang kuat untuk mengembangkan kawasan perdagangan bebas karena berbatasan langsung dengan Timor Leste, memiliki Pos Lintas Batas Negara (PLBN), beragam komoditas unggulan, serta posisi strategis sebagai pintu gerbang perdagangan Indonesia menuju kawasan Pasifik.

Menurutnya, seluruh keunggulan tersebut hanya akan memberikan manfaat apabila dikembangkan menjadi pusat produksi dan pusat industri pengolahan sehingga aktivitas ekonomi yang dibangun memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Penulis :
Leon Weldrick