
Pantau - Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) 2026 berhasil mengubah cara pandang masyarakat terhadap perpustakaan dengan menjangkau sekitar 13,9 juta orang secara kumulatif sejak diluncurkan pada 2018 melalui kolaborasi lintas sektor dan semangat gotong royong.
Perpustakaan Jadi Ruang Produktif dan Kreatif
Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) E Aminudin Aziz mengatakan TPBIS mendorong perpustakaan menjadi ruang yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penguatan literasi.
"Kita menyaksikan masyarakat datang ke perpustakaan dengan tekad baru untuk meningkatkan kecakapan literasi guna mengubah status kesejahteraan hidupnya menjadi lebih baik. Perpustakaan berubah menjadi ruang yang lebih produktif dan kreatif untuk meningkatkan kualitas hidup," ungkapnya.
Ia menjelaskan, pada 2026 program TPBIS dilaksanakan di 750 lokus dan terus didorong untuk direplikasi di berbagai daerah melalui dukungan pemerintah daerah serta para pemangku kepentingan.
Menurut Aminudin, keberhasilan TPBIS tidak terlepas dari kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, komunitas, hingga masyarakat sebagai pelaku utama program.
"TPBIS gagasannya dari pusat, pelaksanaannya tetap dari desa atas dukungan masyarakat sebagai subjek penyelenggaraan kegiatan ini, karena ujungnya peningkatan kualitas hidup bersama. Inilah hakikat kolaborasi, kemitraan, dan nilai gotong royong itu," ujarnya.
Ia juga menegaskan perpustakaan daerah tidak mengambil alih tugas organisasi perangkat daerah lain, melainkan menghadirkan inovasi melalui kemitraan lintas sektor untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Jangan dilihat bahwa ada tugas-tugas dari dinas lain yang diambil alih oleh perpustakaan daerah, justru perpustakaan ingin menghadirkan sebuah inovasi bagaimana nilai gotong royong itu diwujudkan melalui kemitraan lintas sektor dengan tujuan akhir meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tuturnya.
Literasi Dinilai Fondasi Indonesia Emas 2045
Aminudin menyebut penguatan perpustakaan merupakan investasi jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam diskusi yang sama, penulis dan tokoh publik Gita Wirjawan menekankan pentingnya budaya literasi, dokumentasi, dan distribusi pengetahuan sebagai fondasi kemajuan bangsa.
"Tanpa literasi, dokumentasi, kognisi, dan distribusi kognisi, kita tidak akan bisa memuliakan konsep demokrasi," ungkapnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali menyatakan pemerintah terus memperkuat pengembangan perpustakaan desa melalui berbagai regulasi, termasuk revisi Undang-Undang Desa dan peluang pemanfaatan dana desa untuk mendukung pelaksanaan TPBIS.
- Penulis :
- Gerry Eka



