HOME  ⁄  Nasional

Lestari Moerdijat Minta Akademisi Tidak Terjebak Budaya 'Kejar Tayang' dalam Publikasi Ilmiah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Lestari Moerdijat Minta Akademisi Tidak Terjebak Budaya 'Kejar Tayang' dalam Publikasi Ilmiah
Foto: (Sumber :Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat membuka Bimbingan Teknis Penulisan Publikasi Jurnal Internasional yang diselenggarakan BRIN bersama Komisi X DPR RI di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, sebagai upaya mendorong budaya publikasi ilmiah yang berintegritas dan berkualitas..)

Pantau - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengingatkan para akademisi agar tidak terjebak budaya "kejar tayang" dalam penulisan publikasi ilmiah karena berpotensi merusak integritas riset dan martabat ilmuwan Indonesia saat membuka Bimbingan Teknis Penulisan Publikasi Jurnal Internasional yang diselenggarakan BRIN bersama Komisi X DPR RI di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (31/7).

Soroti Integritas dan Tantangan Publikasi Ilmiah

Lestari mengatakan publikasi ilmiah saat ini kerap dipandang sebagai tuntutan administratif sehingga berisiko mengesampingkan kualitas dan integritas penelitian.

"Publikasi ilmiah saat ini sudah seperti komoditas. Kita tidak bisa menutup mata, memasukkan hasil penelitian ke jurnal internasional merupakan keharusan administratif. Tetapi kita harus pastikan jurnal yang diterbitkan bukan sekadar mengejar tenggat dan asal masuk. Ini yang harus kita benahi bersama," ujarnya.

Dalam kegiatan yang diikuti 109 ilmuwan dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah itu, Lestari juga menyoroti ketimpangan ekosistem publikasi global antara negara maju dan negara berkembang.

Menurutnya, tantangan tersebut meliputi keterbatasan akses terhadap jurnal bereputasi, kemampuan pembiayaan, komunikasi, hingga masih kurang didengarnya suara Indonesia dalam wacana ilmiah global.

Ia juga mengingatkan potensi penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan generatif dalam proses penulisan maupun penelaahan karya ilmiah.

"Pertanyaannya, apakah kita sudah siap bersaing secara bermartabat di dalamnya," ungkapnya.

Bimtek Diharapkan Bangun Budaya Publikasi Berkualitas

Lestari menegaskan peningkatan jumlah publikasi ilmiah tidak selalu sejalan dengan peningkatan mutu ilmu pengetahuan apabila hanya berorientasi pada pemenuhan syarat administratif.

"Penggunaan etika harus hadir dari awal, bukan setelah masalah terjadi," katanya.

Ia mengajak para peserta menjadikan bimbingan teknis sebagai momentum membangun budaya publikasi yang berkualitas dan berintegritas.

"Bimbingan teknis BRIN adalah bentuk kehadiran negara untuk mendampingi, bukan mengatur. Mari bergandengan tangan, memperluas kapasitas, bukan menyerahkan publikasi ilmiah kita kepada kepentingan instan," pungkasnya.

Penulis :
Aditya Yohan