
Pantau - Anggota Komisi VI DPR RI Christiany Eugenia Paruntu menilai pemerintah semakin adaptif dalam menetapkan harga BBM non-subsidi karena mekanismenya mengikuti perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah, seiring penyesuaian harga yang mulai berlaku pada 1 Agustus 2026.
Penyesuaian Harga Dinilai Jaga Daya Beli
Christiany mengapresiasi langkah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama badan usaha penyedia BBM yang menyesuaikan harga BBM non-subsidi.
Ia mengungkapkan, "Penyesuaian harga tersebut mencerminkan semakin adaptifnya mekanisme penetapan harga BBM non-subsidi terhadap perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah."
Menurutnya, penurunan harga sejumlah jenis BBM non-subsidi dapat membantu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan biaya operasional di berbagai sektor.
Berdasarkan penyesuaian terbaru, harga BP 92 turun dari Rp16.670 menjadi Rp16.130 per liter, sedangkan BP Ultimate turun dari Rp17.240 menjadi Rp16.760 per liter.
Sementara itu, BP Ultimate Diesel mengalami kenaikan dari Rp21.340 menjadi Rp21.910 per liter mengikuti dinamika harga energi global.
Christiany juga menilai pemerintah berhasil menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah fluktuasi harga minyak internasional tanpa mengabaikan perlindungan terhadap daya beli masyarakat.
Pertamina Diapresiasi Jaga Stabilitas Harga
Christiany turut mengapresiasi PT Pertamina (Persero) yang melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi secara bertahap.
Per 1 Agustus 2026, harga Pertamax turun dari Rp16.250 menjadi Rp15.950 per liter, Pertamax Green 95 turun dari Rp17.000 menjadi Rp16.600 per liter, serta Pertamax Turbo turun dari Rp19.300 menjadi Rp18.300 per liter.
Di sisi lain, harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar tetap Rp6.800 per liter.
Ia mengungkapkan, "Penyesuaian ini membuat masyarakat yang menggunakan BBM bersubsidi tetap memperoleh perlindungan dari sisi harga."
Christiany menilai sinergi antara Kementerian ESDM dan Pertamina perlu terus diperkuat agar kebijakan energi nasional mampu menghadirkan pasokan yang aman, harga yang kompetitif, serta layanan yang merata di seluruh Indonesia.
Ia mengungkapkan, "Penurunan harga BBM non-subsidi ini merupakan langkah positif yang patut diapresiasi. Saya mengapresiasi kinerja Menteri ESDM dan komitmen Pertamina yang terus menghadirkan kebijakan harga yang adaptif dan berpihak kepada kepentingan masyarakat."
- Penulis :
- Aditya Yohan



