
Pantau - Penurunan harga minyak dunia dinilai menjadi momentum bagi pemerintah untuk menata kebijakan energi dan fiskal, termasuk memperkuat reformasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) saat tekanan harga global sedang mereda.
Momentum Reformasi Saat Harga Minyak Melandai
Peneliti sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti mengatakan kondisi harga minyak yang relatif tenang memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan pembenahan kebijakan.
“Momentumnya ada di ruang fiskal dan kesempatan menata aturan. Saat harga minyak sedang tenang, itulah reformasi paling murah dilakukan.” ungkapnya.
Yayan menilai pemerintah dapat memanfaatkan situasi tersebut untuk menyempitkan selisih tingkat subsidi, memulihkan cadangan stok BBM, serta memperkuat perlindungan yang lebih tepat sasaran bagi masyarakat rentan.
Ia juga menyebut bantuan langsung kepada rumah tangga yang telah terdata pemerintah lebih efektif dibandingkan subsidi komoditas yang berpotensi dinikmati kelompok masyarakat mampu.
Gejolak Geopolitik dan Kurs Masih Jadi Ancaman
Meski harga minyak dunia turun, Yayan mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko yang dapat kembali mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri.
Menurut dia, risiko utama berasal dari ketegangan geopolitik yang sempat mendorong harga minyak Brent menembus 100,17 dolar AS per barel pada 23 Juli akibat ancaman terhadap Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.
Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga dinilai menjadi faktor penting dalam penentuan harga BBM.
“Yang paling sering luput adalah kurs. Pelemahan rupiah 500 perak saja sudah menghapus penurunan Rp300 ini, tanpa harga minyak bergerak sedikit pun. Jadi, risikonya bukan hanya dari Hormuz, tetapi juga dari nilai tukar.” ujarnya.
Pada awal Agustus 2026, Pertamina menurunkan harga Pertamax dari Rp16.250 menjadi Rp15.950 per liter.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent turun menjadi sekitar 83,40 dolar AS per barel dan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 6 persen menjadi 79,60 dolar AS per barel setelah Amerika Serikat menyatakan akan melanjutkan perundingan damai dengan Iran.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



