
Pantau - Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi memulai Sayembara Riset dan Inovasi Daerah bagi peneliti muda tahun 2026 sebagai program pertama yang digagas langsung oleh Gubernur NTB untuk menghasilkan solusi atas berbagai persoalan pembangunan di daerah.
Kepala Brida NTB, I Gede Putu Aryadi, mengungkapkan, "Sayembara ini menjadi ruang kolaborasi bagi peneliti muda untuk menghadirkan solusi nyata atas berbagai persoalan pembangunan di NTB."
Ia menyampaikan pemerintah tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan pembangunan tanpa dukungan berbagai pihak sehingga hasil riset diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen ilmiah, melainkan berkembang menjadi inovasi yang dapat diterapkan sebagai dasar pengambilan kebijakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Tiga Tema Prioritas Penelitian
Brida NTB menetapkan tiga tema prioritas penelitian, yakni pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan energi, serta pariwisata berkelanjutan.
I Gede Putu Aryadi mengatakan, "Brida NTB menetapkan tiga tema prioritas penelitian, yakni pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan energi, serta pariwisata berkelanjutan."
Menurutnya, NTB memiliki potensi riset yang besar dengan dukungan ratusan perguruan tinggi, berbagai lembaga penelitian, komunitas riset yang aktif, serta ribuan hasil penelitian yang telah dihasilkan.
Ia menegaskan potensi riset tersebut perlu dihubungkan dengan kebutuhan pembangunan daerah agar mampu melahirkan inovasi yang memberikan dampak nyata.
Seleksi Objektif dan Pendampingan hingga Implementasi
Brida NTB menggandeng akademisi, peneliti, praktisi, dan unsur independen dalam tim evaluasi untuk memastikan proses seleksi berlangsung objektif, profesional, serta berorientasi pada hasil yang dapat diterapkan.
Sebanyak 15 proposal terbaik akan memperoleh pendanaan stimulus sebesar Rp30 juta untuk setiap proposal.
Proposal terpilih juga akan mendapatkan pendampingan dari tim evaluasi hingga tahap implementasi agar hasil riset dapat diterapkan secara nyata.
I Gede Putu Aryadi mengatakan, "Sebanyak 15 proposal terbaik nantinya akan memperoleh pendanaan stimulus sebesar Rp30 juta per proposal, disertai pendampingan oleh tim evaluasi hingga tahap implementasi agar hasil riset dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat."
Anggota Tim Evaluasi, Khairul Hamim, menyampaikan sayembara riset bukan sekadar kompetisi, tetapi juga menjadi wadah untuk menguji kemampuan peneliti muda dalam menawarkan solusi atas berbagai persoalan daerah.
Ia menegaskan riset yang dihasilkan harus bersifat terapan sehingga mampu menjadi dasar kebijakan dan menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Khairul Hamim menjelaskan tiga tema prioritas dipilih karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pembangunan NTB.
Pada tema pengentasan kemiskinan, peserta dapat meneliti model intervensi, evaluasi program pemerintah, tata kelola desa, hingga pemberdayaan masyarakat.
Pada tema ketahanan pangan dan energi, penelitian diarahkan pada peningkatan produktivitas pertanian, diversifikasi pangan lokal, hilirisasi hasil pertanian, serta pengembangan energi.
Khairul Hamim mengatakan, “Adapun tema pariwisata berkelanjutan mencakup pengelolaan destinasi, penguatan pariwisata berbasis masyarakat, konservasi lingkungan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia sektor pariwisata.”
- Penulis :
- Leon Weldrick



