HOME  ⁄  Nasional

Perpusnas Tegaskan Perpustakaan Jadi Penjaga Informasi Kredibel di Era Akal Imitasi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Perpusnas Tegaskan Perpustakaan Jadi Penjaga Informasi Kredibel di Era Akal Imitasi
Foto: (Sumber :Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz dalam Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) XVII di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Selasa (4/8/2026). ANTARA/HO-Perpusnas..)

Pantau - Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia E. Aminudin Aziz menegaskan perpustakaan memiliki peran penting sebagai penjaga informasi kredibel di tengah pesatnya perkembangan akal imitasi (Artificial Intelligence/AI) yang mengubah ekosistem informasi.

Pernyataan tersebut disampaikan Aminudin saat membuka Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) XVII di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (4/8), yang menyoroti tantangan literasi di era digital.

Perpustakaan Tak Lagi Sekadar Penyedia Informasi

Aminudin mengungkapkan, "Tantangan yang dihadapi perpustakaan saat ini bukan lagi sebatas mengelola koleksi dan menyediakan akses informasi, melainkan memastikan masyarakat mampu membedakan informasi yang benar dari informasi yang menyesatkan."

Menurutnya, ledakan pemanfaatan AI telah mengubah cara masyarakat memperoleh, memahami, dan memanfaatkan informasi sehingga perpustakaan harus bertransformasi menjadi institusi terpercaya yang mampu memastikan masyarakat memperoleh informasi yang sahih.

Ia juga menegaskan, "Ketika kita berbicara tentang literasi, sesungguhnya kita sedang berbicara mengenai kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills (HOTS). Inilah salah satu upaya penting yang harus dilakukan oleh perpustakaan dan pustakawan, yakni memastikan bahwa para pengguna informasi memiliki daya kritis yang tinggi."

Aminudin mengingatkan bahwa AI hanyalah teknologi yang bekerja berdasarkan algoritma sehingga etika, moral, dan tanggung jawab tetap bergantung pada manusia.

"AI atau kecerdasan buatan pada dasarnya tidak memiliki etika, moral, atau nilai. Semua itu baru ada ketika manusia sebagai penciptanya memasukkan nilai-nilai tersebut ke dalam algoritma yang dibangun," ujarnya.

Pustakawan Didorong Jadi Pendamping Literasi Digital

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi, Dadang Kahmad, menilai perpustakaan perlu bertransformasi dari tempat penyimpanan pengetahuan menjadi ruang penciptaan pengetahuan yang mampu membangun budaya informasi yang sehat.

Ia mengatakan, "Perpustakaan modern harus mampu membantu masyarakat memilah informasi yang benar, memahami informasi secara kritis, menggunakan teknologi informasi secara bertanggung jawab, serta menghasilkan pengetahuan baru yang bermanfaat."

Menurut Dadang, peran pustakawan juga harus berkembang menjadi pendamping literasi digital yang membimbing masyarakat menyusun prompt yang tepat, memeriksa validitas jawaban AI, serta memahami etika penggunaan teknologi.

Dadang menegaskan, "AI hanyalah alat, manusia-lah yang menentukan bagaimana alat tersebut dimanfaatkan. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh ditinggalkan. Keduanya harus berjalan beriringan agar perpustakaan tetap relevan dan mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat."

Penulis :
Aditya Yohan