HOME  ⁄  Nasional

Karhutla Berulang di Ketapang Memicu Konflik Orangutan dan Warga

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Karhutla Berulang di Ketapang Memicu Konflik Orangutan dan Warga
Foto: (Sumber :Tim gabungan BKSDA Kalbar bersama YIARI,PT Mohairson Pawan Khatulistiwa dan masyarakat evakuasi orangutan Jantan 'Wak' di perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalbar ANTARA/HO-BKSDA Kalbar.)

Pantau - Kebakaran hutan dan lahan yang berulang di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, memicu konflik berkepanjangan antara orangutan dan warga karena kerusakan habitat mendorong satwa liar masuk ke perkebunan masyarakat.

Ketua Umum Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Silverius Oscar Unggul mengatakan pembukaan lahan dengan cara membakar yang tidak terkendali mempercepat kerusakan habitat orangutan.

"Pembukaan lahan dengan cara membakar lahan yang tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orangutan. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orangutan kehilangan makanan, kehilangan tempat tinggal, dan akhirnya terdorong masuk ke kebun warga," katanya.

Orangutan dan Warga Sama-sama Terdampak

Silverius mengatakan kerusakan habitat membuat masyarakat dan orangutan sama-sama terdampak karena warga mengalami kerugian akibat tanaman rusak, sedangkan satwa kehilangan ruang hidup.

"Artinya, orangutan dan masyarakat sama-sama menjadi korban dari praktik yang sama. Situasi ini juga menimbulkan beban besar bagi negara, baik dari sisi penanganan konflik satwa, pemadaman kebakaran, pemantauan lapangan, hingga translokasi dan pemulihan habitat," ujarnya.

Menurut dia, karhutla di Ketapang tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan karena dampaknya telah menyentuh keselamatan manusia dan satwa liar.

"Yang lebih memprihatinkan, kebakaran di Ketapang juga sudah sangat serius dan bahkan telah menelan korban jiwa. Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga krisis keselamatan manusia, satwa liar, dan masa depan bentang alam kita," katanya.

Catatan YIARI menunjukkan konflik orangutan dengan masyarakat di Desa Kuala Tolak dan sekitarnya pernah terjadi ketika kebakaran besar melanda wilayah tersebut pada 2015 dan 2019.

Peristiwa serupa kembali terjadi pada 2026 ketika seekor orangutan jantan yang diberi nama Wak ditemukan berada di perkebunan buah milik warga.

Seorang warga Desa Kuala Tolak, Morsali, mengatakan kemunculan orangutan berkaitan dengan habitat yang semakin terganggu di tengah pembukaan lahan dan musim kemarau.

"Orangutan keluar ini juga masalahnya habitatnya terganggu. Banyak pembukaan lahan, apalagi ini musim kemarau, api banyak. Jadi dia mencari tempat yang aman untuk cari makan dan berlindung karena habitatnya sudah tidak aman lagi," katanya.

Orangutan Wak Dievakuasi dan Dilepasliarkan

BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI mengevakuasi Wak untuk menghindari konflik dengan masyarakat serta melindunginya dari ancaman karhutla.

Orangutan tersebut kemudian dilepasliarkan ke areal konsesi PT Mohairson Pawan Khatulistiwa yang masih berada dalam bentang hutan yang sama dengan habitat asalnya.

Areal sekitar 36.972,56 hektare ekosistem gambut tersebut dinilai masih memiliki populasi orangutan liar yang sehat serta kondisi habitat yang aman.

General Manager PT Mohairson Pawan Khatulistiwa Wendi Tamariska mengatakan lokasi pelepasliaran dipilih berdasarkan kajian teknis dengan mempertimbangkan tutupan tajuk dan ketersediaan pakan.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane menegaskan penanganan konflik manusia dan satwa liar membutuhkan keterlibatan berbagai pihak serta tidak dapat dilepaskan dari upaya pengendalian karhutla.

"Penyelesaian konflik manusia dan satwa liar tidak dapat dipisahkan dari pengendalian karhutla, perlindungan habitat, serta penegakan hukum terhadap praktik pembukaan lahan dengan cara membakar," ujarnya.

Penulis :
Aditya Yohan