HOME  ⁄  Nasional

Penanganan Kubangan Pascagempa di Nokilalaki Rampung, Aliran Sungai Kamarora Kembali Normal

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Penanganan Kubangan Pascagempa di Nokilalaki Rampung, Aliran Sungai Kamarora Kembali Normal
Foto: Tim dari Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu dibantu TNI-Polri dalam membuka kubangan air yang terjadi akibat gempa bumi di Kecamatan Nokilalaki dan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Pantau - Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, menyatakan penanganan seluruh kubangan dan sumbatan longsoran akibat gempa bumi di kawasan Nokilalaki telah rampung sehingga aliran air kembali normal dan ancaman longsoran di kawasan konservasi dinyatakan tidak lagi mengkhawatirkan.

"Penanganan kubangan-kubangan ini tuntas dikerjakan dengan bantuan dari Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu, TNI, Polri, Universitas Tadulako, BWS Sulawesi III dan seluruh pihak lainnya," kata Bupati Sigi Moh Rizal Intjenae di Sigi, Minggu (9/8/2026).

Rizal mengatakan air yang sebelumnya tertahan material longsoran kini dapat kembali mengalir sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kondisi tersebut.

"Alhamdulillah air yang sempat tertahan longsoran sudah bisa mengalir seperti semula sehingga masyarakat tidak perlu lagi khawatir," ucapnya.

Sumbatan Longsoran Sungai Kamarora Dibuka

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu Irham Rangga Sasmita mengatakan seluruh kubangan atau sumbatan akibat longsoran telah berhasil dibuka.

Menurut Irham, luas penampang longsor di Sungai Kamarora mencapai 14,6 hektare.

Penanganan dilakukan secara manual dan menggunakan teknik jet shooter untuk mengurai material longsoran secara perlahan hingga jalur air kembali terbuka.

"Jadi sebelumnya sungai tersebut tersumbat tidak ada air yang mengalir, tapi saat ini sudah kembali normal," katanya.

Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu selanjutnya akan melakukan pemulihan ekosistem dan pemantauan berkala di kawasan konservasi Nokilalaki.

"Pekan depan kami akan melakukan penanaman 100 bibit pohon nantu dan tanaman rintisan bambu," kata Irham.

CCTV Dipasang untuk Deteksi Dini

Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu juga memasang CCTV di sekitar kawasan konservasi untuk memantau kondisi material longsoran dan perubahan aliran air.

"Tentunya perangkat ini dipasang sebagai sarana monitoring dan deteksi dini untuk mengamati pergerakan material longsoran serta perubahan aliran air secara berkala," ujarnya.

Pemantauan tersebut dilakukan sebagai bagian dari langkah lanjutan setelah penanganan sumbatan longsoran yang muncul akibat bencana gempa bumi.

Pemkab Sigi sebelumnya menetapkan masa transisi menuju pemulihan selama 90 hari, terhitung sejak 1 Juli hingga 28 September 2026.

Penulis :
Gerry Eka