HOME  ⁄  Nasional

OMC Belum Bisa Dilakukan, Karhutla Gunung Bromo Terdampak hingga 520 Hektare

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

OMC Belum Bisa Dilakukan, Karhutla Gunung Bromo Terdampak hingga 520 Hektare
Foto: Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko di Taman Wisata Alam (TWA) Angke, Jakarta, Senin 10/8/2026 (sumber: ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo)

Pantau - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengungkapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat dilakukan untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Bromo, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, hingga Senin, 10 Agustus 2026.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko, menjelaskan OMC terkendala karena awan konvektif yang dibutuhkan untuk pelaksanaan operasi tersebut belum terbentuk di wilayah Bromo.

Kondisi itu membuat OMC diperkirakan belum memungkinkan dilakukan setidaknya hingga sekitar 10 hari ke depan berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Awan Konvektif Belum Terbentuk

"Sebenarnya kita sudah berpikir untuk melakukan modifikasi cuaca, tetapi menurut BMKG paling tidak sampai 10 hari ke depan belum mungkin dilakukan karena awan konveksinya belum terbentuk untuk membuat OMC," kata Satyawan.

Keberadaan awan konvektif menjadi salah satu syarat untuk menjalankan OMC guna meningkatkan potensi terjadinya hujan di kawasan terdampak kebakaran.

OMC merupakan intervensi untuk meningkatkan potensi hujan dengan menyemai garam atau Natrium Klorida (NaCl) ke gumpalan awan menggunakan pesawat khusus.

Pelaksanaan OMC dilakukan berdasarkan data ilmiah dengan melibatkan tim ahli dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BMKG, dan TNI Angkatan Udara.

Sementara itu, kebakaran di kawasan TNBTS telah berlangsung selama beberapa hari atau setidaknya sejak Selasa, 4 Agustus 2026.

Hingga Senin, 10 Agustus 2026, titik-titik api di kawasan tersebut belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebagai UPT Ditjen KSDAE Kemenhut di Jawa Timur mencatat luas kawasan Gunung Bromo yang terdampak kebakaran telah mencapai sekitar 520 hektare.

Angka tersebut masih dalam proses pendataan sehingga luas kawasan terdampak dapat diperbarui berdasarkan hasil pemantauan di lapangan.

Pemadaman Andalkan Pasukan Darat dan Water Bombing

Sulitnya akses melalui jalur darat untuk menjangkau titik-titik kebakaran menjadi salah satu tantangan utama dalam proses pemadaman berdasarkan pemantauan terakhir di lapangan.

Kondisi tersebut membuat strategi penanggulangan karhutla difokuskan pada kombinasi pengerahan pasukan darat dan pemadaman dari udara menggunakan metode water bombing atau pengeboman air.

"Pendekatannya kita kombinasi antara pasukan darat dan water bombing. Kemarin saja sudah ada 30 kali pengeboman air. Namun medan yang sulit, angin kencang, dan kelembapan udara yang sangat rendah membuat upaya pemadaman tidak mudah," ungkap Satyawan.

Berdasarkan keterangan tersebut, sebanyak 30 kali pengeboman air telah dilakukan sehari sebelumnya untuk membantu memadamkan kebakaran.

Upaya pemadaman masih menghadapi hambatan berupa medan yang sulit dijangkau, angin kencang, serta tingkat kelembapan udara yang sangat rendah.

Selama OMC belum dapat dilakukan karena belum tersedianya awan konvektif, penanganan kebakaran Gunung Bromo masih mengandalkan kombinasi pasukan darat dan water bombing untuk mengendalikan serta memadamkan titik-titik api.

Penulis :
Arian Mesa