HOME  ⁄  Nasional

Arif Satria Tegaskan Inovasi Tak Harus Berteknologi Canggih untuk Menyelesaikan Masalah Masyarakat

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Arif Satria Tegaskan Inovasi Tak Harus Berteknologi Canggih untuk Menyelesaikan Masalah Masyarakat
Foto: Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dalam kegiatan Indonesia Innovator Awards 2026 di Jakarta, Senin 10/8/2026 (sumber: ANTARA/Sean Filo Muhamad)

Pantau - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan tidak semua persoalan masyarakat harus diselesaikan menggunakan teknologi canggih karena inovasi juga dinilai dari kreativitas dan kemampuannya memberikan solusi nyata.

Pernyataan tersebut disampaikan Arif dalam kegiatan Indonesia Innovator Award 2026 di Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026.

Menurut Arif, kehebatan sebuah inovasi tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi juga kreativitas dalam menemukan pemecahan atas suatu persoalan.

Teknologi Sederhana Bisa Menjadi Solusi Nyata

Arif mencontohkan inovasi berupa sepatu karet yang dibuat tanpa menggunakan lem dan jahitan sebagai teknologi sederhana yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat prasejahtera.

Menurutnya, inovasi tersebut bukan riset sembarangan karena dirancang untuk menghasilkan alas kaki yang awet, murah, dan mudah dirawat.

Arif menekankan periset perlu memiliki empati terhadap kebutuhan masyarakat ketika mengembangkan sebuah teknologi.

"Kita memberikan solusi untuk teknologi, bagi anda teman-teman, saudara-saudara kita yang kurang mampu, sehingga kita pun harus berempati kebutuhan masyarakat," katanya.

Selain sepatu karet, Arif menyoroti inovasi sederhana lain, termasuk teknologi pembuatan genteng berbahan komposit serabut kelapa, limbah bambu, dan sawit.

Ia juga mencontohkan Lahsamor, yakni mesin yang dikembangkan untuk mengolah sampah organik.

Arif mengungkapkan dirinya pernah mendapat ledekan terkait pengembangan Lahsamor oleh BRIN karena mesin tersebut dianggap terlalu sederhana dan dinilai dapat dibuat oleh siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

"Saya pernah diledek, kenapa BRIN mengembangkan Lahsamor? Lahsamor itu mesin pengolah sampah organik. Orang SMK juga bisa, memang betul, teknologi sederhana semua orang bisa. Tapi kenapa orang lain tidak melakukan? Kekuatan kreativitas ide, dengan teknologi sederhana bisa menyelesaikan masalah," ujarnya.

Menurut Arif, persoalan utamanya bukan sekadar apakah sebuah teknologi mudah dibuat, melainkan apakah terdapat kreativitas dan gagasan untuk memanfaatkan teknologi tersebut dalam menyelesaikan masalah masyarakat.

Ia menegaskan kemampuan sebuah inovasi dalam memberikan pemecahan masalah juga menjadi ukuran penting selain tingkat kemajuan atau kerumitan teknologinya.

Teknologi sederhana, menurut Arif, dapat menjadi solusi penting bagi persoalan kompleks, termasuk pengelolaan sampah di Indonesia.

Namun, manfaat teknologi tersebut juga bergantung pada kemampuan untuk memasyarakatkan dan menerapkannya dengan baik agar dapat digunakan secara luas.

BRIN Kembangkan Teknologi Secara Multi-Level

Arif turut menyoroti kecenderungan sebagian pihak yang menginginkan seluruh inovasi menggunakan teknologi tinggi tanpa mempertimbangkan kesesuaiannya dengan kebutuhan masyarakat.

"Kadang-kadang orang tidak mau berempati, maunya teknologi tinggi semuanya. Nanti kalau teknologi tinggi semuanya, orang mengkritik juga, kok tinggi? Apa untuk rakyat?," lanjut dia.

Karena itu, BRIN berencana terus mengembangkan inovasi secara berjenjang atau multi-level, mulai dari teknologi sederhana hingga teknologi tingkat lanjut atau advanced technology.

Meski tingkat teknologi yang dikembangkan berbeda, BRIN menetapkan tujuan utama agar setiap inovasi mampu menghasilkan manfaat semaksimal mungkin bagi masyarakat luas.

Arif menegaskan teknologi maju tetap harus berorientasi pada kemanfaatan, sementara teknologi sederhana tidak akan dihindari sepanjang menawarkan sesuatu yang baru dan lahir dari kreativitas periset.

BRIN juga menilai para periset yang menghasilkan inovasi pada berbagai tingkat teknologi perlu terus mendapatkan apresiasi selama inovasi tersebut mampu memberikan solusi terhadap persoalan yang ada.

"Sekali lagi, teknologi tinggi, teknologi yang maju, orientasinya tetap pada kemanfaatan. Teknologi sederhana tidak kita hindari, sepanjang itu adalah sesuatu yang belum pernah ada, yang itu adalah kreativitas dari para periset kita. Jadi kita harus terus mengapresiasi para periset yang dengan teknologi ber-multilevel ini, yang penting adalah menyelesaikan masalah." tutur Arif Satria.

Penulis :
Arian Mesa