HOME  ⁄  Nasional

Gempa Magnitudo 7,4 di Kolombia Ungkap Risiko Keruntuhan Bangunan Perkotaan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Gempa Magnitudo 7,4 di Kolombia Ungkap Risiko Keruntuhan Bangunan Perkotaan
Foto: (Sumber :Tim darurat melaksanakan operasi pencarian, penyelamatan, dan evakuasi di seluruh wilayah Cali setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat Kolombia pada 10 Agustus 2026. Laporan awal menunjukkan adanya sejumlah bangunan yang runtuh, kerusakan pada gedung dan jalan, serta gangguan sementara pada beberapa layanan publik. ANTARA/Edwin Rodriguez Pipicano - Anadolu Agency /pri..)

Pantau - Gempa bumi magnitudo 7,4 yang mengguncang Kolombia pada Senin (10/8/2026) memberikan gambaran mengenai risiko kegagalan struktur bangunan perkotaan akibat guncangan kuat dari aktivitas lempeng penunjam.

Pakar Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan fenomena seismotektonik gempa tersebut memberikan pemahaman mengenai mekanisme lempeng penunjam dan risikonya terhadap struktur bangunan di kawasan perkotaan.

Gempa Chocó terjadi pada pukul 19.34 WIB dengan pusat gempa di darat pada kedalaman 110,3 kilometer, sekitar lima kilometer sebelah selatan San José del Palmar.

Dampak sementara gempa tersebut dilaporkan telah menelan 132 korban jiwa.

Guncangan Kuat Picu Kegagalan Struktur

Daryono menjelaskan guncangan gelombang seismik dari dalam lempeng atau intraslab memicu Puncak Percepatan Tanah (PGA) tinggi yang dapat berdampak fatal terhadap bangunan bertingkat di kawasan perkotaan.

"Gaya inersia mendadak ini bekerja langsung pada massa bangunan bertingkat serta struktur pasangan batu, memicu fenomena lantai lemah atau soft-story failure akibat beban lateral yang melampaui kapasitas elemen penopang utama," kata Daryono.

Ketidakmampuan struktur menahan simpangan antarlantai kemudian dapat berkembang menjadi keruntuhan progresif atau progressive collapse hingga keruntuhan total secara bertingkat atau pancake collapse.

Keruntuhan bangunan secara mendadak juga memunculkan awan debu pekat yang menyelimuti permukiman dan mengganggu jarak pandang.

Kerusakan jaringan energi akibat gempa turut meningkatkan risiko bahaya sekunder berupa kebakaran.

Gempa Berasal dari Lempeng Nazca

Daryono menerangkan gempa tersebut bersumber dari robeknya Lempeng Samudra Nazca yang menunjam di bawah Lempeng Benua Amerika Selatan.

Sumber gempa berada di sepanjang sistem subduksi Palung Kolombia-Ekuador-Peru-Chili dan bukan berasal dari bidang sentuh antarlempeng atau megathrust.

Deformasi internal pada lempeng penunjam melepaskan gelombang seismik berfrekuensi tinggi yang merambat secara efisien melalui material lempeng yang dingin dan padat.

Kondisi tersebut menghasilkan guncangan tanah yang sangat merusak di permukaan meskipun gempa tidak memicu potensi tsunami.

Indonesia Diminta Memetik Pelajaran

Daryono menilai kerusakan di Kolombia menjadi pelajaran penting bagi negara lain, termasuk Indonesia yang memiliki tatanan subduksi lempeng serupa dari Samudra Hindia hingga kawasan Indonesia timur.

"Efisiensi perambatan gelombang yang merusak bangunan non-standar hingga memicu kegagalan struktur menegaskan pentingnya audit ketat standar bangunan tahan gempa atau building code, pemetaan risiko seismik, serta penguatan kesiapsiagaan menghadapi dampak sekunder di kawasan perkotaan padat," kata Daryono menegaskan.

Audit standar bangunan tahan gempa, pemetaan risiko seismik, dan kesiapsiagaan terhadap dampak sekunder dinilai penting untuk menekan risiko korban dan kerusakan ketika gempa kuat terjadi di kawasan perkotaan padat.

Penulis :
Ahmad Yusuf