
Pantau - Koperasi Unit Desa (KUD) Sejahtera di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, membangun pabrik pengolahan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dengan total investasi sekitar Rp100 miliar untuk memperkuat hilirisasi sawit berbasis koperasi.
Pabrik CPO milik KUD Sejahtera tersebut diresmikan Menteri Koperasi Ferry Juliantono pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Pemerintah menargetkan pabrik tersebut menjadi model hilirisasi industri sawit berbasis koperasi yang dapat direplikasi di berbagai daerah sentra sawit di Indonesia.
Pemerintah Dorong Koperasi Masuk Pengolahan Sawit
Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan pembangunan pabrik CPO oleh koperasi didorong pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sawit sekaligus memperkuat posisi tawar petani.
“Memang sengaja kami bersama KUD Sejahtera berniat untuk menjadikan pabrik kelapa sawit ini menjadi contoh baru, model percontohan yang akan kita replikasi di daerah-daerah lain,” kata Ferry.
Menurut Ferry, pemerintah telah mendorong berbagai koperasi sawit di daerah untuk mengikuti model KUD Sejahtera dengan mulai masuk ke sektor pengolahan sawit.
Melalui skema tersebut, koperasi diharapkan tidak hanya menjadi pengumpul tandan buah segar (TBS), tetapi juga terlibat dalam pengolahan menjadi CPO sehingga memperoleh nilai tambah lebih besar.
Ferry menyebut PT Agrinas Palma Nusantara telah menerima pendaftaran dari sekitar 20 koperasi yang berminat mendirikan pabrik pengolahan CPO.
Kementerian Koperasi bersama Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) juga telah menerima pengajuan dari dua koperasi petani sawit yang ingin membangun pabrik CPO.
“Harapannya pabrik-pabrik CPO seperti ini yang dimiliki koperasi bisa berdiri di seluruh sentra sawit di Indonesia,” kata Ferry.
Investasi Tembus Rp100 Miliar, Kapasitas 45 Ton per Jam
Ketua KUD Sejahtera Thamrin mengatakan investasi yang dikeluarkan khusus untuk fasilitas pabrik mencapai sekitar Rp90 miliar.
Setelah memperhitungkan pembangunan infrastruktur dan pengadaan lahan, total investasi pabrik CPO KUD Sejahtera mencapai sekitar Rp100 miliar.
Pembiayaan pembangunan pabrik berasal dari pinjaman perbankan, modal anggota koperasi, serta penyertaan modal dari masyarakat dan pelaku usaha di sekitar koperasi.
Pabrik CPO KUD Sejahtera memiliki kapasitas pengolahan hingga 45 ton TBS per jam.
Menurut Thamrin, keberadaan pabrik memberikan nilai tambah bagi petani anggota KUD Sejahtera karena koperasi dapat memberikan kepastian penyerapan hasil produksi TBS mereka.
Selain memperoleh kepastian penyerapan TBS, anggota koperasi berpeluang mendapatkan bagian keuntungan dari usaha pengolahan sawit tersebut.
Mayoritas Bahan Baku Berasal dari Kebun Anggota
KUD Sejahtera saat ini memiliki 1.536 anggota dengan total kebun sawit yang dikelola melalui koperasi mencapai sekitar 3.074 hektare.
Sekitar 76 persen kebutuhan bahan baku pabrik CPO dipasok langsung dari kebun sawit milik anggota KUD Sejahtera.
Kekurangan bahan baku untuk memenuhi kebutuhan operasional pabrik dipasok dari TBS milik petani sawit di sekitar lokasi yang menjalin kemitraan dengan koperasi.
Untuk aspek pemasaran, produksi CPO KUD Sejahtera saat ini belum ditujukan untuk ekspor secara langsung.
CPO yang dihasilkan dipasarkan kepada sejumlah mitra industri, salah satunya Wilmar.
- Penulis :
- Shila Glorya



