HOME  ⁄  Nasional

BTN dan PPATK Perbaiki 20 Rumah Tak Layak Huni untuk Keluarga Prasejahtera di Empat Daerah

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

BTN dan PPATK Perbaiki 20 Rumah Tak Layak Huni untuk Keluarga Prasejahtera di Empat Daerah
Foto: Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Nixon L.P. Napitupulu bersama Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Ivan Yustiavandana, Direktur Human Capital & Compliance BTN Eko Waluyo, Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah, serta Kepala Bidang Keuangan Polda Banten Kombes Pol. Seffy Oktavia Brahma AR melakukan pengguntingan pita sebagai simbol peresmian rumah penerima manfaat Sanatra di Desa Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis 13/8/2026 (sumber: BTN)

Pantau - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menjalankan program perbaikan 20 rumah tidak layak huni (RTLH) bagi keluarga prasejahtera di empat wilayah Indonesia pada 2026.

Sebanyak 20 rumah tersebut tersebar di Kabupaten Lebak, Cianjur, Sukabumi, dan Purworejo dengan masing-masing wilayah mendapatkan perbaikan lima rumah.

Salah satu rumah penerima manfaat di Desa Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, diresmikan pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita oleh Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu bersama Kepala PPATK Ivan Yustiavandana, Direktur Human Capital & Compliance BTN Eko Waluyo, Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah, serta Kepala Bidang Keuangan Polda Banten Kombes Pol. Seffy Oktavia Brahma AR.

BTN Dorong Kolaborasi Perbaikan Rumah

Program perbaikan RTLH pada 2026 merupakan kelanjutan kolaborasi BTN dan PPATK yang pada 2025 telah memperbaiki 15 rumah.

Dengan tambahan 20 rumah tahun ini, jumlah penerima manfaat program perbaikan RTLH selama dua tahun mencapai 35 rumah.

Nixon mengatakan program tersebut dijalankan di berbagai daerah untuk menjangkau lebih banyak masyarakat yang masih tinggal di hunian tidak layak.

Menurutnya, perbaikan RTLH menjadi salah satu solusi bagi masyarakat yang belum memiliki kemampuan mendapatkan rumah melalui skema pembiayaan maupun memperbaiki tempat tinggal secara mandiri.

Nixon menyebut sekitar satu dari tiga keluarga di Indonesia masih tinggal di rumah yang belum memenuhi seluruh kriteria sebagai hunian layak.

Ia menjelaskan tidak semua kelompok masyarakat mampu mendapatkan rumah melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR), terutama masyarakat berpenghasilan rendah.

"BTN hidup dari industri perumahan dan kami memahami betul bahwa belum semua segmen masyarakat bisa mendapatkan rumah melalui KPR, terutama masyarakat pada desil 1, 2, 3 dan sebagian desil 4 yang masih memiliki keterbatasan untuk membayar angsuran. Karena itu, salah satu solusi yang bisa kita lakukan adalah melalui bedah rumah," ungkap Nixon.

Menurut Nixon, penyelesaian persoalan rumah tidak layak huni membutuhkan keterlibatan banyak pemangku kepentingan dan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak.

BTN dan PPATK pun berkomitmen menjadikan program bedah rumah sebagai kegiatan tahunan, terutama di wilayah yang masih menghadapi persoalan kemiskinan dan kemiskinan ekstrem.

Nixon mengakui jumlah rumah yang diperbaiki saat ini masih relatif kecil dibandingkan kebutuhan secara keseluruhan, tetapi dampaknya dapat menjadi lebih besar apabila perusahaan dan institusi lain menjalankan gerakan serupa.

"Apa yang kita lakukan hari ini memang masih bagian kecil. Tetapi kalau semua korporasi dan institusi memiliki gerakan yang sama, ribuan rumah bisa kita perbaiki setiap tahun. Kita tidak hanya menunggu pemerintah, korporasi juga bisa bergerak bersama dan dampaknya langsung dirasakan masyarakat," ungkap Nixon.

Program tersebut juga disebut sejalan dengan transformasi BTN menuju Beyond Mortgage dengan semangat membangun rumah sekaligus membangun kehidupan.

Program ini turut dikaitkan dengan semangat transformasi BUMN di bawah Danantara Indonesia yang diarahkan untuk menciptakan nilai serta dampak berkelanjutan bagi masyarakat.

"BTN telah menyalurkan pembiayaan untuk sekitar 6,1 juta rumah di seluruh Indonesia," kata Nixon.

PPATK Usung Semangat Rumah Bersih, Keuangan Bersih

Kepala PPATK Ivan Yustiavandana menjelaskan program bedah rumah tersebut menjadi bagian dari Gerakan Nasional Anti Pencucian Uang Indonesia yang telah memasuki usia ke-24.

Gerakan tersebut dikembangkan sebagai gerakan bersama dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

"Dalam rangka gerakan nasional anti pencucian uang Indonesia yang ke-24, kami bersama BTN membangun dan memperbaiki rumah untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan kebutuhan dasar berupa papan. Ke depan kegiatan seperti ini akan terus kami laksanakan bersama BTN," ungkap Ivan.

PPATK juga membawa semangat "Rumah Bersih, Keuangan Bersih" yang akan diperluas melalui kegiatan literasi keuangan keluarga.

Menurut Ivan, literasi keuangan keluarga penting karena keluarga merupakan kelompok terkecil dalam masyarakat sekaligus fondasi pembentukan perilaku finansial yang sehat dan berkelanjutan.

Penerima Manfaat Kini Tempati Rumah Lebih Layak

Manfaat program tersebut salah satunya dirasakan Sanatra, warga yang sebelumnya tinggal bersama keluarganya di rumah dengan kondisi rusak dan bocor.

Sanatra sebelumnya tidak memiliki kemampuan finansial untuk memperbaiki rumah karena penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan dan kebutuhan anak-anak.

Setelah mendapatkan bantuan, rumah Sanatra diperbaiki sehingga kondisinya menjadi lebih baik untuk ditempati bersama keluarganya.

"Dulu rumahnya mau roboh, bocor. Mau memperbaiki enggak punya uang, karena untuk makan dan kebutuhan anak-anak saja. Alhamdulillah sekarang sudah bagus. Senang banget, saya, istri, sama anak. Terima kasih banget kepada BTN," ungkap Sanatra.

Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah turut mengapresiasi program perbaikan rumah yang dijalankan BTN bersama PPATK.

Amir menyebut tingkat kemiskinan di Kabupaten Lebak masih berada di kisaran 8,03 persen, sedangkan sekitar 5.000 warga masih masuk kategori kemiskinan ekstrem.

Kondisi tersebut turut memengaruhi kemampuan masyarakat dalam menyediakan maupun memperbaiki tempat tinggal yang layak.

"Kami sangat berterima kasih kepada PPATK yang telah memberikan perhatian kepada daerah kami dan juga kepada BTN. Kabupaten Lebak masih menghadapi persoalan kemiskinan. Karena itu, kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus hadir di Kabupaten Lebak," kata Amir.

Pemerintah Kabupaten Lebak berharap program serupa terus dilaksanakan untuk membantu masyarakat yang masih menghadapi persoalan kemiskinan dan tempat tinggal tidak layak.

Penerima manfaat program RTLH ditentukan melalui koordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman serta pemerintah daerah setempat.

Proses tersebut juga disertai verifikasi terhadap kondisi rumah dan kelayakan masyarakat yang akan menerima bantuan.

Program perbaikan RTLH BTN dan PPATK sekaligus mendukung Program 3 Juta Rumah pemerintah sebagai bagian dari upaya memperluas akses terhadap hunian layak bagi keluarga prasejahtera yang belum mampu membeli ataupun memperbaiki rumah secara mandiri.

Penulis :
Leon Weldrick