HOME  ⁄  Nasional

Firman Soebagyo Soroti Ketergantungan Impor, Pemerintah Didorong Wujudkan Surplus Kedelai

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Firman Soebagyo Soroti Ketergantungan Impor, Pemerintah Didorong Wujudkan Surplus Kedelai
Foto: Anggota Komisi IV DPR, Firman Soebagyo (sumber: DPR RI)

Pantau - Anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo menyoroti ketimpangan produksi dan kebutuhan kedelai nasional yang membuat Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi konsumsi dalam negeri.

Firman menyebut produksi kedelai Indonesia pada 2025 diperkirakan hanya sekitar 300.000-350.000 ton, sedangkan kebutuhan nasional mencapai sekitar 2,6-2,9 juta ton per tahun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor kedelai Indonesia sepanjang 2025 mencapai 2,56 juta ton dengan sekitar 90 persen di antaranya berasal dari Amerika Serikat.

Kedelai Lokal Dinilai Punya Potensi

Firman menilai tingginya ketergantungan terhadap kedelai impor perlu segera diatasi mengingat komoditas tersebut menjadi bahan baku utama berbagai pangan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia, khususnya tahu dan tempe.

"Padahal, Indonesia memiliki varietas lokal seperti Grobogan dan Anjasmoro yang memiliki masa panen sekitar 80-90 hari dan dinilai memiliki kualitas yang baik," ungkap Firman kepada Parlementaria, Kamis, 13 Agustus 2026.

Menurut Firman, pemerintah perlu melakukan intervensi secara menyeluruh dari sektor hulu hingga hilir untuk memperkuat produksi kedelai nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Salah satu langkah yang didorong adalah penyediaan sedikitnya 1 juta hektare lahan untuk budidaya kedelai.

Pemerintah juga diminta memberikan kepastian kemitraan bagi petani serta memastikan hasil panen kedelai dalam negeri dapat terserap dengan baik.

Produktivitas Didorong Capai 3-4 Ton per Hektare

Firman turut mendorong pemerintah mengendalikan impor kedelai agar produksi petani dalam negeri mendapatkan perlindungan dan memiliki ruang untuk berkembang.

Pengembangan dan penyediaan benih kedelai unggul juga dinilai penting untuk meningkatkan kemampuan produksi nasional.

Produktivitas kedelai Indonesia saat ini tercatat sekitar 1,6 ton per hektare dan dinilai perlu ditingkatkan secara signifikan hingga mencapai sekitar 3-4 ton per hektare.

Peningkatan produktivitas, penyediaan lahan, kepastian penyerapan hasil panen, pengendalian impor, serta pengembangan benih unggul diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendorong kemandirian kedelai nasional.

"Harus ada keberpihakan nyata agar petani kedelai sejahtera dan Indonesia bisa surplus kedelai," tegas Firman.

Penulis :
Shila Glorya