
Pantau - PAM Jaya menargetkan Sistem Penyediaan Air Minum Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) di Pulau Kelapa Dua, Kabupaten Kepulauan Seribu, dapat kembali beroperasi paling lambat Sabtu, 15 Agustus 2026, setelah mengalami sejumlah kendala teknis yang mengganggu pasokan air bersih warga.
Senior Manager Corporate Communication PAM Jaya Gatra Vaganza mengatakan tim masih melakukan investigasi untuk memastikan tingkat kerusakan mesin SWRO.
"Tim kami masih bekerja melakukan investigasi kerusakan mesin tersebut. Jika hanya perbaikan ringan, maka Sabtu ini akan bisa kembali beroperasi," ungkap Gatra.
Gangguan SWRO mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu setelah Bupati Kepulauan Seribu Muhammad Fadjar Churniawan meninjau fasilitas tersebut pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Sensor dan Pompa Lumpur Bermasalah
Gatra menjelaskan sistem SWRO menggunakan membran yang sangat padat dan rapat untuk menyaring air yang sebagian besar berasal dari air laut dengan bantuan pompa bertekanan tinggi.
Kondisi operasional yang tidak optimal membuat air tidak dapat terdorong melewati sistem sehingga tidak keluar sebagaimana seharusnya.
"Karena kondisi operasional yang tidak optimal, jadi tidak terdorong dan air tidak keluar," jelas Gatra.
Tim PAM Jaya masih melakukan perbaikan sembari menunggu hasil investigasi lapangan sebagai dasar menentukan tindakan lanjutan.
"Jika ternyata dilakukan perbaikan, paling lambat Sabtu (15 Agustus 2026) bisa beroperasi," kata Gatra.
Koordinator SWRO PAM Jaya Pulau Kelapa Dua Andi Ardiansyah mengungkapkan terdapat sejumlah persoalan teknis yang membuat fasilitas tersebut tidak mampu memproduksi air secara normal.
Salah satu kendala adalah sensor pembaca tekanan membran yang tidak dapat terbaca sehingga mesin bertekanan tinggi mati dan hidup secara tidak normal.
Kendala lainnya adalah air hasil produksi SWRO mengeluarkan bau akibat kerusakan pompa lumpur.
Kerusakan tersebut membuat lumpur tidak dapat dibuang dan akhirnya mengendap hingga masuk ke jalur produksi serta memengaruhi kualitas air.
Selain persoalan pompa lumpur, persediaan bahan kimia sodium hypochlorite atau NaOCl yang digunakan dalam proses pengolahan air juga telah habis.
"Pompa lumpur rusak dan tidak dapat membuang lumpur yang mengendap, sehingga lumpur masuk ke jalur produksi. Selain itu, tidak ada campuran bahan kimia NaOCl karena persediaannya sudah habis," jelas Andi.
PAM Jaya telah menjadwalkan pengiriman teknisi dari kantor pusat pada Jumat, 14 Agustus 2026, untuk menangani berbagai kendala tersebut.
Gangguan Berdampak pada Pasokan Air Warga
Gangguan SWRO berdampak signifikan terhadap masyarakat Pulau Kelapa Dua karena pasokan air bersih belum tersedia secara normal.
Warga untuk sementara harus menampung air atau mengambil air dari sumur bor meskipun sumber tersebut dinilai tidak ideal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Kami berupaya agar kondisi ini segera berakhir dan sistem ini dapat segera ditangani," tegas Gatra.
Bupati Kepulauan Seribu Muhammad Fadjar Churniawan menyatakan pemerintah akan berkoordinasi dengan PAM Jaya agar kendala fasilitas SWRO segera diselesaikan karena air bersih merupakan kebutuhan vital masyarakat kepulauan.
"Kita ingin memastikan pelayanan air bersih kepada masyarakat tetap berjalan. Karena itu, setiap kendala teknis harus segera ditangani dan dikoordinasikan agar produksi maupun distribusi air dapat kembali normal," kata Fadjar.
SWRO Mampu Produksi 19 Meter Kubik Air per Hari
SWRO Pulau Kelapa Dua memiliki waktu produksi sekitar 22 jam setiap hari dengan kemampuan menghasilkan air sekitar 19 meter kubik per hari.
Sementara itu, distribusi air kepada masyarakat berlangsung sekitar dua jam setiap hari dengan volume berkisar 15 hingga 20 meter kubik per hari.
PAM Jaya berharap perbaikan sensor tekanan membran dan pompa lumpur, pemulihan proses pengolahan air, serta tersedianya kembali bahan kimia NaOCl dapat membuat SWRO Pulau Kelapa Dua segera beroperasi dan pelayanan air bersih kepada warga kembali normal.
- Penulis :
- Leon Weldrick



