HOME  ⁄  Nasional

Sanoesi Pane Menjaga Jiwa Bangsa lewat Sastra dan Perjuangan Kebudayaan

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Sanoesi Pane Menjaga Jiwa Bangsa lewat Sastra dan Perjuangan Kebudayaan
Foto: Gambar ilustrasi buatan AI

Pantau - Penyair Sanoesi Pane menempuh perjuangan kebangsaan melalui sastra, pemikiran, dan kebudayaan dengan sikap bersahaja yang telah terlihat sejak sebelum Indonesia merdeka.

Sanoesi bahkan pernah menilai pengabdiannya kepada Indonesia belum sebanding dengan apa yang telah diberikan bangsa kepadanya.

"Indonesia telah memberikan segala-galanya bagiku. Akan tetapi, aku merasa belum pernah menyumbangkan sesuatu yang berharga baginya," ungkap Sanoesi kepada istrinya pada era 1960-an.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Sanoesi diminta melengkapi berkas administrasi untuk menerima Satyalancana Kebudayaan dari Presiden Soekarno.

Sanoesi juga pernah menolak secara halus permintaan kritikus sastra HB Jassin yang ingin mewawancarainya untuk pengumpulan arsip kesusastraan pada awal kemerdekaan.

"Saya bukan apa-apa," katanya.

Perjalanan ke India Memengaruhi Pemikiran Sanoesi

Perjalanan Sanoesi ke India pada 1929-1930 memperdalam pandangan filosofis dan spiritualnya serta memperkuat ketertarikannya terhadap kebudayaan Timur.

Pemikiran Sanoesi banyak dipengaruhi pujangga India sekaligus peraih Nobel Sastra, Rabindranath Tagore.

Tagore sebelumnya mengunjungi Jawa dan Bali pada 1927 ketika tokoh-tokoh pergerakan nasional tengah memperdebatkan arah kebudayaan Indonesia.

Riset biografi "Sanusi Pane: Hasil Karya dan Pengabdiannya" yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1985 menyebut kunjungan Tagore memperkuat ketertarikan Sanoesi terhadap spiritualitas dan kebudayaan Timur serta mendorong perjalanannya ke India.

Setelah kembali pada 1930, Sanoesi mengembangkan pemikiran mengenai perpaduan budaya Barat dan Timur.

Sanoesi Pane Ikut Melahirkan Poedjangga Baroe

Sanoesi mulai bekerja sebagai redaktur Balai Pustaka pada 1931 ketika lembaga penerbitan Hindia Belanda tersebut menerapkan sensor ketat terhadap karya yang menggugah nasionalisme dan mengkritik pemerintah kolonial.

Pada 1933, Sanoesi bersama Armijn Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Amir Hamzah menerbitkan majalah Poedjangga Baroe secara mandiri.

Majalah sastra tersebut lebih independen dibandingkan Balai Pustaka dan menjadi ruang perdebatan intelektual yang lebih leluasa pada masa kolonial.

Sikap Sanoesi terhadap penghargaan juga tercermin dalam pernyataannya mengenai pengabdian kepada bangsa.

"Aku tidak berhak menerima tanda jasa apa pun untuk apa-apa yang sudah kukerjakan. Karena itu adalah semata-mata kewajibanku sebagai putera bangsa," ungkapnya.

Penulis :
Gerry Eka