
Pantau - Teknologi pengolahan limbah organik Apartemen Maggot di Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mampu mengurai hingga 250 kilogram sampah organik setiap hari dalam waktu dua hari sekaligus menghasilkan maggot untuk pakan ternak.
Teknologi yang digagas Dr. Linus Ampang Pasasa, M.S. tersebut memanfaatkan larva lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF) dengan metode konvensional yang dirancang agar pengolahan sampah berlangsung cepat, berbiaya efisien, dan dapat diterapkan pada lahan relatif sempit.
Satu unit Apartemen Maggot hanya membutuhkan lahan sekitar 1x6 meter dengan biaya pembangunan berkisar Rp45 juta.
Sampah Organik Diolah Menjadi Pakan Ayam
Linus mengatakan proses penguraian sampah organik menggunakan sistem Apartemen Maggot dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat.
"Kalau kita memasukkan sampah ke dalam sistem ini, dua hari itu sudah terurai," ungkap Linus.
Sampah yang dapat diolah berasal dari rumah tangga maupun sektor hotel, restoran, dan kafe atau HOREKA.
Linus menyatakan fasilitas Apartemen Maggot siap menerima sampah organik dari pelaku usaha HOREKA yang belum seluruhnya dapat diolah.
"Di sini kami siap menampung sampah dari HOREKA. Sampah mereka belum tentu semuanya diolah," kata Linus.
Selain mengurangi volume sampah, satu unit Apartemen Maggot mampu menghasilkan maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan untuk mendukung pemeliharaan sekitar 100 ekor ayam ternak.
Sistem tersebut membentuk rantai nilai ekonomi dengan memanfaatkan sampah organik untuk menghasilkan maggot yang selanjutnya digunakan sebagai sumber pakan ayam petelur.
Telur yang dihasilkan dapat dijual untuk membantu membiayai operasional dan pengelolaan fasilitas atau dimanfaatkan untuk mendukung program sosial pemerintah daerah, termasuk penanganan stunting melalui fasilitas kesehatan seperti puskesmas.
"Telurnya mau dijual untuk biaya yang mengurus atau dibagi-bagi untuk penanganan stunting melalui puskesmas dan sebagainya. Tinggal bagaimana manajemennya," ungkap Linus.
Pemkab Bandung Barat Dorong Ekspansi ke 16 Kecamatan
Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menyambut positif penerapan Apartemen Maggot sebagai salah satu solusi strategis dalam menghadapi persoalan sampah di Kabupaten Bandung Barat.
Pengembangan program tersebut mengandalkan sinergi pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor perbankan agar penerapannya dapat diperluas ke wilayah lain.
"Dengan adanya kerja sama ini, saya berharap ke depannya bisa diekspansi ke seluruh kecamatan di Bandung Barat. Kalau memungkinkan, kami berharap program ini bisa dikembangkan di 16 kecamatan dan 165 desa di Bandung Barat," kata Jeje.
Pengembangan teknologi pengelolaan sampah bernilai tambah tersebut turut digerakkan bersama Bank Mandiri Taspen dengan sasaran menciptakan kegiatan produktif sekaligus membuka peluang wirausaha bagi para pensiunan.
Dukungan kepada calon pelaku usaha diberikan melalui pendampingan tenaga ahli serta paket pembiayaan usaha senilai Rp45 juta.
Direktur Utama Bank Mandiri Taspen Panji Irawan menilai program tersebut dapat memberikan kegiatan produktif bagi pensiunan sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam menjaga lingkungan.
"Para pensiunan nantinya bisa mengisi hari-harinya dengan berbagai aktivitas. Misalnya ikut membersihkan lingkungan dan berkolaborasi dengan warga," kata Panji.
Melalui model tersebut, Apartemen Maggot diarahkan tidak hanya untuk mengurangi volume sampah organik, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi melalui produksi maggot dan telur, membuka peluang usaha bagi masyarakat dan pensiunan, serta mendukung program sosial di Kabupaten Bandung Barat.
- Penulis :
- Shila Glorya



