HOME  ⁄  Nasional

Mirae Asset Menilai Pasar Domestik Masih Berpeluang Menguat pada Semester II 2026

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Mirae Asset Menilai Pasar Domestik Masih Berpeluang Menguat pada Semester II 2026
Foto: (Sumber :Ilustrasi - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jakarta, Rabu (19/8/2026). (ANTARA/HO-Mirae Asset).)

Pantau - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar domestik masih memiliki ruang untuk menguat pada semester II 2026 seiring mulai meredanya tekanan eksternal terhadap Indonesia.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan pelemahan dolar AS dan penguatan rupiah memberikan ruang bagi otoritas untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

Namun, investor dinilai tetap perlu mencermati sejumlah trade-off, terutama terkait inflasi, stabilitas nilai tukar, kredibilitas fiskal, kualitas pertumbuhan ekonomi, serta laba perusahaan.

Perhatian Investor Mulai Bergeser ke Faktor Domestik

Rully menilai perhatian investor secara bertahap mulai bergeser dari risiko global menuju faktor domestik setelah tekanan eksternal mereda.

"Ruang penguatan pasar domestik masih terbuka, tetapi dengan profil risiko yang semakin berimbang. Perhatian investor akan semakin bergeser pada kualitas pertumbuhan dan konsistensi kebijakan domestik, termasuk realisasi fiskal, perkembangan inflasi, serta efektivitas transmisi likuiditas ke sektor produktif. Karena itu, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, inflasi, kredibilitas fiskal, dan stabilitas nilai tukar menjadi semakin penting," ujar Rully.

Sektor perbankan menjadi salah satu area yang dinilai perlu dicermati karena kondisi likuiditas masih ketat di tengah pertumbuhan kredit yang tetap kuat.

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafruddin mengatakan perubahan kebijakan terkait reserve requirement juga mulai membentuk peta baru dalam industri perbankan.

"Meskipun terdapat deployment SAL sebesar Rp451 triliun, likuiditas perbankan diperkirakan masih tetap ketat seiring dengan kuatnya pertumbuhan kredit," ujar Nurkholis.

Menurutnya, perubahan ketentuan reserve requirement yang mulai berlaku pada September 2026 berpotensi memberikan dampak berbeda terhadap masing-masing bank sehingga investor perlu lebih selektif.

"Di tengah kondisi pasar yang semakin dinamis dan selektif tersebut, kebutuhan investor juga terus berkembang. Investor tidak hanya membutuhkan akses terhadap berbagai produk investasi, tetapi juga pendekatan yang dapat membantu mengelola aset sesuai dengan kebutuhan dan tujuan keuangan jangka panjang," kata dia.

Mirae Asset Transformasi Layanan Pengelolaan Kekayaan

Mirae Asset Sekuritas turut memperkenalkan transformasi Wealth Management sebagai bagian dari perjalanan bisnis baru perusahaan untuk menjawab perkembangan kebutuhan investor.

Direktur PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Tomi Taufan mengatakan pertumbuhan kelompok middle class dan mass affluent membuka peluang pasar seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam mengelola keuangan dan investasi.

"Wealth Management tidak lagi hanya berbicara mengenai produk apa yang tersedia, tetapi dimulai dari memahami kebutuhan nasabah, kemudian menghadirkan solusi yang sesuai. Karena itu, kami mendorong perubahan dari pendekatan product-centric menjadi client-centric," ujar Tomi.

Pendekatan tersebut digunakan untuk menyesuaikan solusi dengan kebutuhan nasabah, mulai dari likuiditas, pendapatan, pertumbuhan aset, proteksi, diversifikasi, hingga perencanaan keuangan dan investasi global.

Transformasi itu didukung lima pilar utama, yakni Service, Product, Access, Global, dan Technology, termasuk melalui M-STOCK serta 29 Office Education Mirae Asset Sekuritas di berbagai wilayah Indonesia.

"Melalui transformasi Wealth Management ini, kami ingin membangun hubungan jangka panjang dengan nasabah, untuk memberikan layanan dan solusi yang sesuai kebutuhan mereka. Dengan dukungan jaringan nasional, ekosistem global, produk yang beragam, serta teknologi, kami ingin membantu nasabah mengelola dan mengembangkan asetnya secara lebih terarah," tutur Tomi.

Penulis :
Ahmad Yusuf