HOME  ⁄  Nasional

Kemdiktisaintek Siapkan Aksara Mahasiswa untuk Percepat Pemulihan Pascabencana di NTT

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Kemdiktisaintek Siapkan Aksara Mahasiswa untuk Percepat Pemulihan Pascabencana di NTT
Foto: Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto ditemui di Jakarta, Senin 10/8/2026 (sumber: ANTARA/Sean Filo Muhamad)

Pantau - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyiapkan Program Mahasiswa Berdampak bertajuk Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa atau Aksara Mahasiswa untuk mendukung penanganan hingga pemulihan wilayah terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Program tersebut akan memperkuat sekaligus mengoordinasikan keterlibatan perguruan tinggi dan mahasiswa dalam membantu masyarakat selama penanganan hingga pemulihan pascabencana.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengapresiasi kepedulian dan gerak cepat mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta seluruh sivitas akademika dalam merespons bencana di NTT.

Apresiasi secara khusus diberikan kepada sivitas akademika Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Universitas Mataram (Unram) yang telah bergerak langsung menuju lokasi terdampak untuk membantu masyarakat.

Brian menilai keterlibatan mahasiswa menunjukkan proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga diwujudkan melalui penerapan pengetahuan, solidaritas, dan solusi ketika masyarakat membutuhkan bantuan.

"Mahasiswa Undana dan Unram telah turun langsung membantu masyarakat di lokasi terdampak. Ini merupakan wujud nyata semangat gotong royong sekaligus pembelajaran yang sesungguhnya. Kampus harus hadir, bergerak, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat," kata Brian.

Perguruan Tinggi Dilibatkan Sesuai Kepakaran

Melalui Aksara Mahasiswa, seluruh perguruan tinggi dan mahasiswa dapat mengambil peran dengan menyesuaikan kepakaran, kapasitas, serta kebutuhan yang ditemukan di lapangan.

Kontribusi tersebut dapat berupa bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana, layanan kesehatan, dukungan psikososial, serta pemulihan trauma.

Perguruan tinggi dan mahasiswa juga dapat terlibat dalam pendataan dampak bencana, edukasi kebencanaan, serta pendampingan pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat.

Brian mengatakan setiap perguruan tinggi mempunyai kepakaran dan sumber daya berbeda yang dapat dimanfaatkan untuk membantu proses pemulihan pascabencana.

Bidang kepakaran yang dapat dilibatkan antara lain kesehatan, psikologi, teknik, pendidikan, kebencanaan, serta pemberdayaan masyarakat.

"Setiap perguruan tinggi memiliki kepakaran dan sumber daya yang dapat digerakkan. Ada yang kuat dalam bidang kesehatan, psikologi, teknik, pendidikan, kebencanaan, maupun pemberdayaan masyarakat. Melalui Aksara Mahasiswa, seluruh kekuatan tersebut akan kita sinergikan, agar bantuan yang diberikan tepat sasaran, terkoordinasi, dan berkelanjutan," ungkap Brian.

Aksara Mahasiswa juga dirancang menjadi ruang pembelajaran kontekstual agar mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.

Pelaksanaan program akan dikoordinasikan bersama perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan terkait dengan tetap memprioritaskan keselamatan mahasiswa yang menjadi relawan.

Pemerintah Percepat Pemulihan Pascagempa Flores

Di sisi lain, Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya mempercepat penanganan darurat sekaligus pemulihan pascagempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyatakan jajaran menteri dan pimpinan lembaga telah berada di NTT sejak hari pertama setelah bencana terjadi.

Menurut Pratikno, kehadiran jajaran pemerintah menjadi bentuk kepedulian sekaligus komitmen dalam mendampingi masyarakat yang terdampak bencana.

"Sejak hari pertama kejadian kita sudah berada di NTT untuk meninjau lapangan dan membahas percepatan pemulihan," kata Pratikno.

Keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan pemangku kepentingan lainnya membuat penanganan diarahkan tidak hanya pada masa tanggap darurat, tetapi juga pada proses pemulihan masyarakat secara terkoordinasi dan berkelanjutan.

Penulis :
Shila Glorya