HOME  ⁄  Nasional

Pemda DIY dan LLDikti Dorong Pendidikan Khas Kejogjaan Masuk Tridarma Perguruan Tinggi

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Pemda DIY dan LLDikti Dorong Pendidikan Khas Kejogjaan Masuk Tridarma Perguruan Tinggi
Foto: Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan pada peluncuran Pendidikan Khas Kejogjaan di UNY. Kamis 20/8/2026 (sumber: Humas Pemda DIY)

Pantau - Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta bekerja sama dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V Yogyakarta untuk memasukkan Pendidikan Khas Kejogjaan ke dalam kegiatan tridarma perguruan tinggi di seluruh wilayah DIY.

Penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan mencakup tiga unsur utama tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan Pendidikan Khas Kejogjaan merupakan gagasan yang telah lama dikembangkan dan dirawat oleh Dewan Pendidikan DIY agar berbagai kekhasan Yogyakarta dapat memberikan kontribusi terhadap sistem pendidikan nasional.

Sri Sultan menegaskan kekhasan Yogyakarta tidak dimaksudkan sebagai bentuk pengecualian dari sistem pendidikan nasional, melainkan sebagai sumbangan bagi pengembangannya.

"Hari ini, melalui kerja sama dengan LLDikti Wilayah V, gagasan itu menemukan jalannya yang lebih luas, masuk ke ruang kuliah, ruang penelitian, dan ruang pengabdian di seluruh perguruan tinggi di wilayah DIY," kata Sri Sultan dalam peluncuran Pendidikan Khas Kejogjaan di UNY.

Kraton, Kampus, dan Kampung Menjadi Tiga Ruang Pendidikan

Menurut Sri Sultan, Pendidikan Khas Kejogjaan mengenal tiga ruang yang harus terus dipertemukan, yakni Kraton, Kampus, dan Kampung.

Kraton berperan menghadirkan horizon atau cakrawala nilai, sedangkan Kampus menghadirkan kemampuan berpikir kritis yang didasarkan pada ilmu pengetahuan.

Sementara itu, Kampung menghadirkan realitas kehidupan sebagai tempat nilai dan ilmu pengetahuan mendapatkan pembuktian secara nyata.

Sri Sultan menilai ilmu pengetahuan modern dapat semakin kuat apabila memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan pengetahuan yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Pengetahuan masyarakat tersebut antara lain tercermin dalam cara warga menjaga sumber daya air, merawat tanah, dan menyelesaikan konflik tanpa menggunakan kekerasan.

"Ilmu modern akan semakin kuat, apabila memiliki kerendahan hati, untuk mendengarkan pengetahuan yang hidup di kampung, dalam cara masyarakat menjaga air, merawat tanah, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan," katanya.

Sebaliknya, pengetahuan lokal dinilai dapat semakin relevan apabila mendapatkan ruang untuk diuji dan dihubungkan dengan berbagai kebutuhan zaman.

Perpaduan pengetahuan lokal dengan perkembangan zaman tersebut menjadi bagian dari prinsip berakar pada budaya dan berwawasan Indonesia.

Sri Sultan menegaskan penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan bukan upaya Yogyakarta untuk menutup diri dalam lokalitas.

Menurutnya, Yogyakarta justru ingin memberikan kontribusi terhadap kebijakan pendidikan tinggi nasional dengan menunjukkan bahwa nilai-nilai lokal dapat menjadi sumber inovasi dan tidak sekadar menjadi pelengkap identitas daerah.

"Karena itulah, Pendidikan Khas Kejogjaan tidak bertentangan dengan kemajuan, namun justru memastikan, agar kemajuan ilmu dan teknologi tetap berpihak pada keselamatan bumi, keadilan, dan kesejahteraan manusia," kata Sri Sultan.

Watak Satriya Jadi Nilai Pengembangan Perguruan Tinggi

Sri Sultan menyebut perkembangan kecerdasan artifisial dan otomatisasi pengetahuan menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi dunia pendidikan tinggi.

Teknologi dapat dimanfaatkan untuk menjawab berbagai tantangan, tetapi manusia tetap harus menentukan tujuan dan arah penggunaannya.

Dalam konteks Pendidikan Khas Kejogjaan, Sri Sultan mengangkat nilai-nilai watak satriya berupa sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh sebagai tuntunan yang juga dapat diterapkan dalam pengelolaan serta pengembangan perguruan tinggi.

Nilai sawiji diperlukan untuk menjaga mutu pendidikan, sedangkan greget diperlukan untuk membangun semangat perguruan tinggi agar terus berinovasi.

Nilai sengguh diperlukan agar perguruan tinggi mampu berdiri dengan percaya diri ketika berhadapan dan berkompetisi di tingkat dunia, sementara ora mingkuh diperlukan agar perguruan tinggi tetap memikul tanggung jawab sosialnya.

"Dalam watak satriya, kita mengenal sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh. Nilai-nilai itu, bukan hanya tuntunan bagi perseorangan. Perguruan tinggi pun memerlukan 'sawiji' dalam menjaga mutu, 'greget' untuk terus berinovasi, 'sengguh' untuk berdiri percaya diri di hadapan dunia, dan 'ora mingkuh' dalam memikul tanggung jawab sosialnya," kata Sri Sultan.

Sri Sultan Dorong Gerakan Ilmu Berjiwa Budaya

Sri Sultan mengajak perguruan tinggi menjadikan Pendidikan Khas Kejogjaan sebagai gerakan ilmu yang memiliki jiwa budaya.

Dalam gerakan tersebut, kebudayaan ditempatkan sebagai sumber nilai, ilmu pengetahuan sebagai alat untuk melakukan pemuliaan, dan kesejahteraan manusia sebagai tujuan akhirnya.

Sri Sultan mengingatkan ilmu pengetahuan yang terlepas dari nilai berisiko kehilangan arah dan tujuan penggunaannya.

Ia berharap Yogyakarta dapat melahirkan model pendidikan tinggi yang mampu menyatukan akar budaya dengan kemajuan, sekaligus mempertemukan nalar dengan rasa serta kebijakan dengan praktik atau laku dalam kehidupan.

"Semoga dari Yogyakarta, lahir model pendidikan tinggi yang mampu menyatukan akar dan kemajuan, nalar dan rasa, kebijakan dan laku, ikhtiar ini menjadi sumbangsih DIY bagi Indonesia, pendidikan yang memerdekakan, membudayakan, dan menyejahterakan," kata Sri Sultan.

Penulis :
Leon Weldrick