
Pantau - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar melakukan audiensi dengan Gubernur Universitas Republik Indonesia (URI), Marsekal TNI (Purn.) Donny Ermawan Taufanto, untuk membahas penguatan sumber daya manusia (SDM) nasional melalui pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan pengembangan Sekolah Vokasi BPOM.
Pertemuan tersebut membahas pentingnya pemanfaatan AI dalam pengembangan pendidikan calon pemimpin Indonesia pada masa depan dengan tetap memperhatikan peningkatan kapasitas SDM, etika, dan tata kelola teknologi.
Taruna menilai peningkatan kapasitas SDM diperlukan agar AI dapat dimanfaatkan untuk membantu proses pengambilan keputusan strategis secara bertanggung jawab.
BPOM Dorong Kepemimpinan Berbasis AI yang Berpusat pada Manusia
Taruna mendorong kolaborasi antara kalangan akademisi, dunia usaha, dan pemerintah atau Academia-Business-Government (ABG) untuk membangun ekosistem kepemimpinan AI yang berpusat pada manusia.
"Kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah atau Academia-Business-Government (ABG) menjadi salah satu pendekatan yang didorong untuk membangun ekosistem human-centered AI leadership. Melalui kolaborasi tersebut, pengembangan teknologi diharapkan tetap menempatkan manusia dan kualitas kepemimpinan sebagai aspek utama," kata Kepala BPOM Taruna di Jakarta pada Kamis.
BPOM juga mendukung integrasi AI ke dalam kurikulum kepemimpinan nasional yang bersifat lintas disiplin, terutama untuk memperkuat literasi data dan pemahaman mengenai etika teknologi.
Pengembangan laboratorium simulasi pengambilan keputusan berbasis AI turut dinilai dapat menjadi sarana pembelajaran bagi calon pemimpin dalam menguji berbagai formulasi kebijakan menggunakan beragam skenario dan risiko nyata.
Selain pengembangan kepemimpinan berbasis AI, pertemuan tersebut membahas Sekolah Vokasi BPOM sebagai bagian dari strategi membangun jalur pengembangan talenta nasional di bidang pengawasan obat dan makanan.
"Kebutuhan tersebut semakin penting mengingat kompleksitas tantangan pengawasan yang terus berkembang seiring kemajuan ilmu farmasi, teknologi, serta ancaman kejahatan di bidang obat dan makanan," kata Taruna Ikrar.
BPOM Masih Membutuhkan Ribuan SDM
Berdasarkan data per Agustus 2026, BPOM memiliki 6.432 aparatur sipil negara (ASN) atau sekitar 60,06 persen dari total kebutuhan sebanyak 10.710 orang.
Kondisi tersebut menunjukkan BPOM masih memerlukan strategi pengembangan SDM yang secara khusus mampu menjawab kebutuhan pengawasan obat dan makanan.
SDM BPOM dituntut menguasai kompetensi yang menggabungkan aspek teknis, teknologi digital, regulasi, ilmu regulasi, pengujian, evaluasi, pengawasan, hingga kemampuan melakukan penindakan di lapangan.
Sekolah Vokasi BPOM diharapkan dapat menghasilkan SDM yang sejak awal mempunyai kompetensi ilmiah, regulasi, praktis, serta nilai-nilai pelayanan publik.
Taruna menilai ketahanan nasional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan pertahanan militer, tetapi juga kemampuan negara dalam menjamin kesehatan masyarakat, keamanan pangan, ketersediaan obat, penguasaan teknologi, dan kualitas SDM.
Karena itu, Sekolah Vokasi BPOM dipandang sebagai bagian dari infrastruktur ketahanan kesehatan nasional sekaligus instrumen strategis untuk mempersiapkan SDM yang siap menjalankan fungsi pengawasan negara di bidang obat dan makanan.
BPOM dan URI Buka Peluang Kolaborasi
Kolaborasi dengan URI dinilai menjadi peluang strategis untuk mengoptimalkan berbagai program pendidikan yang telah tersedia sekaligus memperkuat sinergi pengawasan obat dan makanan dengan agenda ketahanan nasional.
Selain pendidikan vokasi, BPOM membuka peluang kerja sama dengan URI dalam pengembangan program pelatihan SDM berbasis AI serta penelitian mengenai tata kelola pengawasan obat dan makanan dengan memanfaatkan teknologi tersebut.
BPOM dan URI juga membuka peluang pendirian pusat studi yang secara khusus berfokus pada etika, regulasi, dampak, serta audit teknologi AI.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas SDM di bidang pengawasan obat dan makanan sekaligus memanfaatkan perkembangan AI secara bertanggung jawab guna mendukung ketahanan kesehatan dan ketahanan nasional Indonesia.
- Penulis :
- Shila Glorya



