HOME  ⁄  Nasional

Wamenkomdigi Nezar Patria Nilai Ilmu Filsafat Makin Relevan di Tengah Perkembangan AI

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Wamenkomdigi Nezar Patria Nilai Ilmu Filsafat Makin Relevan di Tengah Perkembangan AI
Foto: (Sumber :Arsip foto - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria saat audiensi dengan Kadis Kominfo Kalimantan Timur di Kantor Komdigi, Jakarta Pusat, Selasa (4/8/2026). (ANTARA/HO-Kemkomdigi/am).)

Pantau - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai ilmu filsafat akan semakin relevan seiring pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI), terutama karena keputusan yang dihasilkan teknologi tersebut memiliki dimensi etika yang membutuhkan pertimbangan manusia.

Kemampuan AI dalam mengolah data, membuat prediksi, dan menghasilkan keputusan dinilai perlu diimbangi kemampuan manusia dalam mempertanyakan nilai, tujuan, serta dampak keputusan tersebut.

“Sebentar lagi lulusan filsafat akan dibayar mahal karena semua pengambilan keputusan yang dibuat oleh artificial intelligence akan punya dimensi-dimensi etik yang membutuhkan pertimbangan-pertimbangan dari mereka yang belajar filsafat,” kata Nezar di Jakarta, Jumat (21/8/2026).

AI Dinilai Belum Mampu Berfilsafat

Nezar mengatakan AI dapat menjelaskan berbagai pemikiran filsafat, tetapi kemampuan tersebut berbeda dengan proses manusia dalam melakukan refleksi filosofis secara kritis dan menyeluruh.

“Filsafat adalah satu hal yang mungkin agak sulit dikuasai oleh AI. AI bisa menjelaskan filsafat, tapi, belum bisa melakukan apa yang kita kenal sebagai berfilsafat,” kata Nezar.

Menurut Nezar, AI kini tidak lagi terbatas sebagai instrumen teknologi karena telah digunakan dalam sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan, pertambangan, pertanian, hingga kehidupan sosial.

Penggunaan yang semakin luas tersebut membuat keputusan yang melibatkan AI memiliki dimensi etika yang perlu menjadi perhatian.

Nezar juga menyoroti munculnya berbagai konsekuensi yang tidak diinginkan atau tidak terduga ketika AI semakin mampu melakukan profiling dan membangun hubungan sintetik dengan manusia.

“Perkembangan Artificial Intelligence ini betul-betul memunculkan apa yang kita sebut unintended consequences, konsekuensi yang tidak kita inginkan atau tidak kita duga,” ujar Nezar.

Robot Humanoid Tambah Tantangan Etika AI

Nezar memandang tantangan etika akan semakin kompleks ketika AI berkembang menjadi teknologi berwujud fisik, termasuk robot humanoid yang dapat berinteraksi langsung dengan manusia.

Dengan dukungan large language model, robot dapat melakukan percakapan, mengenali lawan bicara, melakukan profiling, hingga membangun hubungan yang disebut synthetic relations.

“Orang merasa bahwa dia lebih bisa percaya sama mesin ketimbang dengan manusia,” kata Nezar.

Menurut Nezar, kondisi tersebut menunjukkan pembahasan AI tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan teknologinya.

Manusia dinilai perlu terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif untuk menentukan bagaimana AI digunakan serta arah perkembangannya.

“Ini menjadi renungan, menjadi refleksi yang sangat baik untuk kita semua yang pernah kuliah di filsafat,” kata Nezar.

Penulis :
Aditya Yohan