HOME  ⁄  Nasional

Kemenag Latih Ratusan Siswa Jadi Edukator Sebaya untuk Cegah Pernikahan Anak

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Kemenag Latih Ratusan Siswa Jadi Edukator Sebaya untuk Cegah Pernikahan Anak
Foto: Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad (sumber: Kemenag)

Pantau - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) melatih ratusan siswa madrasah dan sekolah menjadi edukator sebaya untuk memperkuat upaya pencegahan pernikahan anak.

Pelatihan tersebut dilaksanakan melalui program Peer Educator yang berlangsung sejak 2024 hingga 2026 dengan membekali siswa pengetahuan dan keterampilan untuk mengedukasi teman seusianya.

Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad mengatakan program tersebut dikembangkan karena pesan yang disampaikan teman sebaya dinilai lebih mudah diterima oleh kalangan remaja.

"Program Peer Educator ini hadir karena kami di Kementerian Agama, khususnya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, meyakini satu hal penting, bahwa suara sebaya sesungguhnya lebih mudah didengar oleh sebaya," ujar Abu Rokhmad.

Ratusan Siswa Mengikuti Pembinaan

Pada periode 2024–2025, sebanyak 480 siswa mengikuti pembentukan Peer Educator yang berasal dari sembilan provinsi.

Sembilan provinsi tersebut meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Lampung, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Utara.

Program tersebut kemudian dilanjutkan pada 2026 dengan melibatkan 80 siswa dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebelum menjalankan perannya sebagai edukator sebaya, para siswa harus melewati tahapan seleksi dan pembinaan.

Dari rangkaian pembinaan tersebut, Kemenag menetapkan 90 siswa dari delapan provinsi sebagai Duta Nasional Peer Educator.

Para duta tersebut menjadi bagian dari jaringan edukator sebaya yang diharapkan mampu memperluas penyampaian pesan pencegahan pernikahan anak di lingkungan sekolah dan komunitas remaja.

Para siswa juga mendapatkan materi mengenai kesehatan reproduksi, hak-hak anak, serta keterampilan komunikasi dan konseling sebaya.

"Adik-adik tidak hanya akan dibekali dengan pengetahuan tentang bahaya dan risiko pernikahan usia anak, tentang kesehatan reproduksi, tentang hak-hak anak, maupun tentang keterampilan komunikasi dan konseling sebaya," kata dia.

Edukator Diminta Jadi Pendengar bagi Teman Sebaya

Kemenag merancang pendekatan edukasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja agar pesan mengenai risiko dan dampak pernikahan anak lebih mudah diterima.

Menurut Abu, komunikasi yang setara memungkinkan remaja lebih mudah memahami materi sekaligus membicarakan berbagai persoalan yang mereka hadapi secara terbuka.

Selain memberikan edukasi, para Peer Educator diminta menjadi pendengar yang baik dan memberikan dukungan ketika teman seusianya mengalami tekanan maupun persoalan keluarga.

Peran tersebut juga diperlukan ketika ada remaja yang mendapatkan dorongan, dijodohkan, atau diarahkan untuk menikah pada usia yang belum semestinya.

"Jadilah pendengar yang baik bagi teman-teman kalian. Jadilah sahabat yang hadir ketika ada teman yang mulai ragu, yang mulai tertekan oleh keadaan, atau bahkan yang mulai dijodohkan atau diarahkan untuk menikah di usia yang belum semestinya," kata dia.

Abu juga meminta para edukator menggunakan bahasa yang dekat dengan kehidupan remaja dan mudah dipahami saat menyampaikan pesan kepada teman sebaya.

Pembinaan Peer Educator tidak hanya diarahkan untuk memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu remaja melihat berbagai pilihan dan masa depan yang lebih baik.

Kemenag berharap para Peer Educator menjadi penggerak perubahan di sekolah maupun komunitas dengan terus menyebarluaskan pemahaman mengenai pencegahan pernikahan anak, kesehatan reproduksi, hak-hak anak, dan keterampilan komunikasi.

Penulis :
Arian Mesa