
Pantau - Warga Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, mulai mengolah sampah organik rumah tangga menjadi ekoenzim sebagai upaya mengurangi limbah sekaligus menghasilkan cairan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
Ekoenzim merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik berupa sisa buah dan sayuran yang dicampur dengan molase atau air gula serta air.
Upaya tersebut dilakukan di tengah persoalan penumpukan sampah yang masih menjadi tantangan di Indonesia.
Data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat volume sampah nasional mencapai 31,9 juta ton pada 2023.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 11,3 juta ton atau sekitar 35,6 persen tercatat tidak terkelola.
Warga Desa Benteng Belajar Membuat Ekoenzim
Sekitar 40 warga yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga mengikuti pelatihan pembuatan ekoenzim di Desa Benteng pada akhir Juli 2026.
Pelatihan didampingi penyuluh pertanian dari Dinas Ketahanan Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Pemerintah Kabupaten Bogor serta pegiat ekoenzim dari Komunitas Eco-enzyme Nusantara Bogor Raya.
Salah seorang warga bernama Tati mengaku baru pertama kali mengetahui cara mengolah sampah organik menjadi ekoenzim.
"Kalau soal cairan ekoenzim, saya baru tahu dan baru pertama kali ini, ternyata gampang membuatnya. Nanti kalau sudah jadi, mau saya pakai untuk menyemprot tanaman. Di rumah saya memang selalu ada sampah dari kulit buah dan sayuran. Jadi, nanti saya mau coba bikin," kata Tati.
Warga lainnya, Neneng, sebelumnya telah memilah sampah rumah tangganya sejak 2019 dan memanfaatkan sampah organik untuk menghasilkan maggot sebagai pakan ikan dan ayam.
"Maggot di kolam ikan saya banyak sekali, sampai menumpuk. Bahkan, saking banyaknya maggot yang sudah ada, sampah sisa buah dan sayur dari dapur saya buang begitu saja. Dengan pelatihan (membuat) ekoenzim ini, saya jadi tahu ada cara lain untuk mengolah sampah organik," kata Neneng.
Ekoenzim Dibuat dengan Tiga Bahan
Pembuatan ekoenzim membutuhkan tiga bahan berupa sampah organik dari sisa buah dan sayuran, molase atau air gula, serta air dengan perbandingan 3:1:10.
Sebagai contoh, sebanyak 300 gram sisa kulit buah dan sayuran dapat dicampurkan dengan 100 gram molase dan satu liter air.
Seluruh bahan kemudian dimasukkan ke wadah plastik bertutup rapat dengan menyisakan ruang untuk menampung gas yang terbentuk selama proses fermentasi.
Pada pekan pertama, tutup wadah disarankan dibuka sesekali untuk melepaskan gas hasil fermentasi.
Cairan ekoenzim dapat digunakan setelah menjalani proses fermentasi sekitar tiga bulan.
Ekoenzim tersebut antara lain dapat dimanfaatkan untuk menyemprot tanaman, sedangkan dalam pelatihan warga juga mendapat pengetahuan mengenai pemanfaatannya untuk membuat sabun cuci piring dan sabun cuci baju dengan bahan tambahan.
Penyuluh di Desa Benteng, Titik Mulyati, mengatakan pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan ekoenzim.
"Sudah pernah membuat ekoenzim yang biasanya dimanfaatkan untuk mengobati luka, menyemprot tanaman; justru ini ilmu baru karena ternyata cairan ekoenzim bisa untuk membuat sabun cuci piring dan sabun cuci baju. Mudah-mudahan ini bisa diaplikasikan oleh ibu-ibu di Desa Benteng," ujar Titik.
Pengolahan Sampah Diharapkan Kurangi Beban TPA
Pengolahan sampah dari tingkat rumah tangga menjadi penting karena penumpukan limbah organik di tempat pembuangan akhir dapat menghasilkan gas metana dan meningkatkan risiko kebakaran maupun longsor.
TPA Galuga yang menampung sampah dari Kabupaten Bogor dan Kota Bogor menerima sekitar 2.000 ton sampah setiap hari.
Diperkirakan terdapat sekitar 15 juta ton sampah yang belum terolah di TPA seluas 31,8 hektare tersebut.
Pemanfaatan sampah organik menjadi ekoenzim dapat menjadi salah satu cara masyarakat mengurangi volume sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir sekaligus menghasilkan produk yang dapat digunakan kembali.
- Penulis :
- Gerry Eka



