
Pantau - Kebakaran yang menghanguskan 89 rumah di Kampung Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi peringatan untuk memperkuat mitigasi dan sistem perlindungan kawasan warisan budaya yang rentan terbakar.
Komunitas Lombok Heritage and Science Society (LHSS) menilai penggunaan material organik seperti ilalang dan bambu pada rumah adat belum diimbangi sistem mitigasi bencana yang memadai.
Ketua LHSS Muhammad Ali Akbar mengatakan pemerintah bersama masyarakat perlu mengevaluasi sistem proteksi kebakaran di seluruh desa adat agar kejadian serupa tidak terulang.
"Kampung adat kami mayoritas bermaterial ilalang dan bambu yang sangat rawan terbakar, tetapi mitigasi bencananya nol," ujar Ali.
Kebakaran Mengancam Warisan Budaya dan Ekonomi Warga
Ali mengatakan kebakaran tidak hanya menyebabkan kerusakan bangunan, tetapi juga mengancam arsitektur vernakular Suku Sasak dan ruang sosial yang menjadi bagian kehidupan masyarakat setempat.
"Kebakaran tersebut menimbulkan efek kehilangan yang tak ternilai dengan uang. Kampung Adat Sade adalah ikon budaya hidup (living heritage) utama Pulau Lombok," kata Ali.
Kebakaran juga berdampak terhadap kegiatan ekonomi kreatif masyarakat adat yang selama ini memperoleh penghasilan dari kain tenun.
"Kami kehilangan arsitektur vernakular Suku Sasak yang otentik dan ruang sosial tempat ritual harian warga. Selain itu, ekonomi kreatif warga lewat kain tenun juga lumpuh total," ucap Ali.
LHSS mendorong pemulihan pascakebakaran tidak hanya berfokus pada pembangunan kembali rumah, tetapi juga pemberdayaan masyarakat dan pelestarian pengetahuan budaya.
"Fisik bangunan bisa dibangun kembali, artefak bisa kita data ulang, tetapi memori kolektif, tradisi lisan, dan keahlian menenun melekat pada manusianya. Selama masyarakat adatnya berdaya, kebudayaan Kampung Adat Sade tidak akan pernah mati," kata Ali.
Sebanyak 89 Rumah Rusak Berat
Kebakaran melanda Kampung Adat Sade di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, pada Sabtu (22/8/2026) malam.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, sebanyak 89 rumah mengalami rusak berat, tetapi tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Api berhasil dipadamkan tim gabungan pada Minggu (23/8/2026) sekitar pukul 05.00 WITA setelah proses pemadaman berlangsung sepanjang malam.
Rumah di kawasan adat tersebut mayoritas menggunakan material yang mudah terbakar berupa kayu, bambu, dan ilalang.
Kampung Adat Sade merupakan permukiman masyarakat Suku Sasak yang masih mempertahankan bentuk rumah serta tata kehidupan tradisional.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengatakan pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan Kementerian Kebudayaan terkait penanganan dampak kebakaran Kampung Adat Sade.
- Penulis :
- Gerry Eka



