
Pantau - Akademisi Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Muridan, mendorong peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum memperkuat pendidikan akhlak dan keteladanan di tengah persoalan moral masyarakat yang semakin kompleks.
“Makna Maulid semestinya tidak hanya berhenti pada seremoni, lantunan shalawat atau pengisahan perjalanan hidup Rasulullah, juga mendorong refleksi terhadap relevansi nilai-nilai kenabian dalam kehidupan masyarakat kontemporer,” katanya di Purwokerto, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026).
Muridan mengatakan keteladanan Rasulullah SAW perlu diwujudkan dalam kehidupan sosial melalui kejujuran, kasih sayang, keadilan, penghormatan terhadap sesama, dan tanggung jawab moral.
Nilai-nilai tersebut dinilai semakin penting di tengah persoalan seperti kekerasan verbal dalam keluarga, kebiasaan menghina dan menghakimi orang lain, perundungan di ruang digital, serta menguatnya sikap individualistis.
Keteladanan Nabi Perlu Diwujudkan dalam Tindakan
Muridan menjelaskan manusia tidak hanya belajar melalui nasihat, tetapi juga melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain.
“Nilai moral akan lebih mudah hidup ketika tidak hanya disampaikan dalam bentuk kata-kata, tetapi diperlihatkan melalui tindakan nyata,” katanya.
Menurut dia, Rasulullah SAW merupakan uswah hasanah atau teladan yang baik, termasuk ketika menghadapi perbedaan, memperlakukan keluarga, berbicara kepada orang lain, merespons kesalahan, dan membangun hubungan sosial.
Pendidikan keteladanan saat ini menghadapi tantangan karena generasi muda tidak hanya belajar dari orang tua, guru, dan tokoh agama, tetapi juga berbagai figur yang mereka temui melalui media sosial.
Muridan mengatakan pendidikan akhlak karena itu perlu dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga dan masyarakat sekitar.
“Cara berbicara kepada pasangan, memperlakukan anak, merespons perbedaan dengan tetangga, hingga memperlakukan orang lain merupakan cerminan kualitas akhlak,” katanya.
Maulid Nabi Didorong Mengubah Perilaku
Muridan menilai peringatan Maulid Nabi perlu diarahkan dari sekadar seremoni menuju transformasi perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam keluarga dapat diterapkan melalui budaya berbicara lembut, sedangkan dalam pendidikan diwujudkan melalui guru yang mempraktikkan nilai moral dan di masyarakat melalui kepedulian terhadap sesama.
“Sementara di ruang digital, keteladanan dapat diwujudkan dengan memeriksa informasi, menghindari penghinaan, dan menjaga etika komunikasi,” katanya.
Muridan mengatakan kehidupan Nabi Muhammad SAW di tengah masyarakat yang beragam juga tetap relevan dengan kondisi masyarakat modern.
Menurut dia, perbedaan tidak semestinya menjadi alasan munculnya permusuhan, tetapi perlu dikelola dengan penghormatan dan adab.
“Akhlak bukan pelengkap agama. Akhlak merupakan wajah agama dalam kehidupan sosial,” katanya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



