HOME  ⁄  Nasional

Pemprov Jateng Upayakan Modifikasi Cuaca untuk Tekan Dampak Kekeringan hingga September 2026

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Pemprov Jateng Upayakan Modifikasi Cuaca untuk Tekan Dampak Kekeringan hingga September 2026
Foto: Ilustrasi - Seorang warga membawa galon berisi air dari tandon yang disalurkan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) saat pendistribusian bantuan air bersih di Desa Kunden, Bulu, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat 24/7/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)

Pantau - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengupayakan pelaksanaan modifikasi cuaca untuk mengurangi dampak kekeringan berkepanjangan yang melanda sejumlah wilayah dan diperkirakan masih berlangsung hingga September 2026.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin mengatakan modifikasi cuaca menjadi salah satu langkah yang dipersiapkan pemerintah untuk menghadapi ancaman kekeringan panjang tahun ini.

"Modifikasi cuaca ini sebagai salah satu upaya mengurangi dampak kekeringan yang berkepanjangan dengan harapan bisa mengurangi kekeringan panjang di tahun ini," kata Taj Yasin di Batang, Selasa.

14 Daerah Berstatus Awas Kekeringan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Jawa Tengah menetapkan 14 daerah berstatus Awas kekeringan meteorologi untuk periode 21 hingga 31 Agustus 2026.

Ke-14 daerah tersebut meliputi Demak, Kudus, Grobogan, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Purworejo, Klaten, Magelang, Cilacap, dan Wonogiri.

BMKG juga memprakirakan seluruh wilayah Jawa Tengah masih berpeluang mengalami curah hujan rendah hingga akhir September 2026.

Awal September 2026 dipetakan sebagai fase paling kering sehingga pemerintah mempersiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi kemungkinan memburuknya dampak kekeringan.

Taj Yasin menilai peringatan kekeringan tersebut tidak hanya perlu direspons melalui penanganan jangka pendek, tetapi juga menjadi momentum memperbaiki sistem pengelolaan air dalam jangka panjang.

Salah satu langkah yang dinilai penting adalah memastikan pembangunan tetap menyediakan ruang yang cukup agar air dapat meresap ke dalam tanah.

Taj Yasin menyoroti pembangunan kawasan permukiman yang terlalu banyak menggunakan beton karena dapat mengurangi luas area resapan air.

"Ini peringatan buat kita bahwa ke depan kita harus membenahi infrastruktur tanah kita. Pori-porinya harus diperhatikan. Kami mendorong agar pembangunan perumahan tidak seluruhnya menutup permukaan tanah dengan beton dan keberadaan sumur biopori dan sumur resapan di lingkungan rumah perlu diperbanyak," kata Taj Yasin.

Pemprov Jateng pun mendorong pembangunan perumahan tidak menutup seluruh permukaan tanah dengan beton agar tetap tersedia area yang dapat menyerap air.

Pemerintah juga mendorong penambahan sumur biopori dan sumur resapan di lingkungan rumah untuk meningkatkan kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air.

Truk Tangki Disiagakan untuk Pasok Air Bersih

Selain mengupayakan modifikasi cuaca dan memperbaiki pengelolaan air, Pemprov Jateng melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiagakan armada truk tangki.

Armada tersebut dipersiapkan untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang kesulitan memperoleh air akibat kekeringan.

Pemprov Jateng juga berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk menangani dampak kekeringan di wilayah terdampak.

Koordinasi tersebut terutama dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan pasokan air yang layak dikonsumsi.

"Koordinasi juga dilakukan bersama pemerintah kabupaten/kota, terutama untuk memastikan ketersediaan air yang layak dikonsumsi bagi warga di wilayah terdampak," kata Taj Yasin.

Dengan ancaman curah hujan rendah hingga akhir September 2026, Pemprov Jateng menjalankan penanganan melalui modifikasi cuaca, penyediaan air bersih, koordinasi dengan pemerintah daerah, serta perbaikan sistem resapan air untuk menghadapi kekeringan dalam jangka panjang.

Penulis :
Shila Glorya