
Pantau - Warung Roekoen di kawasan Kramat, Jakarta Pusat, menawarkan kuliner rumahan dalam bangunan berusia lebih dari 100 tahun yang mempertahankan berbagai ornamen dan koleksi warisan keluarga keturunan Tionghoa.
Warung yang didirikan Dade (62) bersama istrinya pada 29 April 2024 itu memadukan pengalaman kuliner dengan suasana klasik melalui arsitektur lama, barang antik, serta dekorasi bernuansa Tionghoa dan Eropa.
Nama Roekoen merupakan gabungan dari "Roemah Koenoe" yang menggambarkan karakter bangunan lama tersebut.
Berawal dari Kos Khusus Perempuan
Warung Roekoen bermula dari keberadaan Koes Roekoen, kos khusus perempuan yang lebih dahulu didirikan Dade.
Kebiasaan penghuni kos mencari makanan ringan kemudian mendorong Dade membuka warung yang awalnya hanya menyediakan makanan dan camilan bagi mereka.
"Sebelumnya saya bikin kos-kosan premium khusus perempuan. Anak-anak perempuan ini kan biasanya suka ngemil, jadi saya pikir kenapa tidak dibuat warung di bawahnya. Saat itu memang untuk anak-anak kos saja," ujar Dade.
Warung tersebut kemudian mulai didatangi masyarakat dari luar lingkungan kos setelah menarik perhatian melalui makanan dan karakter bangunannya.
"Mulanya memang untuk memenuhi kebutuhan anak kos. Tapi lama-lama orang luar mulai datang. Mereka mungkin penasaran dengan tempatnya, makanannya juga. Akhirnya yang datang bukan cuma anak kos, tetapi semakin banyak pengunjung dari luar," tutur Dade.
Rumah Berusia Lebih dari 100 Tahun Menjadi Daya Tarik
Bangunan yang digunakan Warung Roekoen merupakan peninggalan keluarga istri Dade yang dibangun oleh kakek istrinya lebih dari satu abad lalu.
"Bangunan ini peninggalan keluarga istri saya. Dibangun kakeknya istri. Umurnya sudah lebih dari seratus tahun. Jadi memang dari dulu sudah rumah seperti ini, bukan kita bikin baru supaya kelihatan tua," ungkap Dade.
Berbagai guci, keramik, porselen, piring, lukisan, lampion hingga kuplet menghiasi ruangan dan memperkuat nuansa Tionghoa di dalam bangunan tersebut.
Sebagian besar benda itu merupakan koleksi keluarga Dade dan istrinya, sementara sebagian lainnya berasal dari pemberian anggota keluarga atau koleksi yang dibeli sendiri.
"Barang-barang yang ada di sini banyak yang memang punya keluarga. Ada yang punya saya, ada juga disumbangkan oleh keluarga kami yang lainnya. Kami tampung semuanya. Memanfaatkan barang-barang yang sudah ada," ujar Dade.
Kuliner Rumahan Menghadirkan Nostalgia
Konsep makanan Warung Roekoen mengutamakan masakan rumahan yang dekat dengan pengalaman Dade sejak kecil.
"Kalau makanan, saya memang maunya makanan rumahan. Ini makanan yang dulu saya makan waktu kecil. Bukan makanan yang sifatnya mewah, tetapi makanan yang sudah biasa kita makan di rumah," tutur Dade.
"Saya ingin orang yang datang ke sini merasa seperti makan di rumah sendiri. Makanannya sederhana, tetapi justru itu yang enak. Yang paling penting bisa bikin orang merasa nyaman dan kembali lagi," lanjutnya.
Menu yang tersedia antara lain nasi uduk, nasi ulam, lontong, mi keriting bakso pangsit lada hitam, nasi goreng kampung dadar, dimsum, pempek, tempe mendoan, donat, roti bakar serta sejumlah pilihan minuman.
Harga makanan dan minuman di Warung Roekoen berada di kisaran Rp30.000 per menu.
Pengunjung Bisa Berfoto Tanpa Biaya Sewa
Nuansa klasik Warung Roekoen juga menarik pengunjung yang ingin berfoto, terutama ketika perayaan seperti Imlek.
Dian (32), salah satu pengunjung yang datang bersama keluarganya, menilai suasana klasik tempat tersebut menjadi daya tarik tersendiri untuk menghabiskan akhir pekan.
"Saya sangat suka suasana di Warung Roekoen. Klasik dan penuh nostalgia, jadi terasa berbeda dari tempat-tempat lain. Cocok untuk melepas penat di akhir pekan bersama keluarga, dan juga bagus untuk foto-foto," katanya.
Dade mengatakan pengunjung yang ingin melakukan pemotretan, termasuk foto tahunan sekolah, pre-wedding, maupun ulang tahun, tidak dikenakan biaya sewa tempat.
"Kalau mau foto di sini sebenarnya tidak ada sewa tempat. Mau foto tahunan sekolah, pre-wedding, atau ulang tahun, silakan saja. Yang penting pesan makanan dan minuman dari sini," lanjut Dade.
Keberadaan Warung Roekoen sekaligus menjadi cara keluarga Dade mempertahankan fungsi rumah warisan yang telah melewati beberapa generasi tanpa menghilangkan jejak budaya Tionghoa di dalamnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



