
Pantau - Anggota DPD RI asal Riau Muhammad Mursyid mengapresiasi tambahan dukungan pemerintah pusat untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Provinsi Riau.
Dukungan tersebut antara lain berupa pengiriman dua helikopter pengebom air atau water bombing tambahan serta 500 unit oksigen atas perintah Presiden Prabowo Subianto.
Presiden juga meminta pasokan oksigen ditambah hingga 700 unit untuk menyediakan cadangan dalam penanganan dampak karhutla.
Mursyid di Pekanbaru, Rabu, 26 Agustus 2026, mengatakan kehadiran Prabowo yang memimpin langsung rapat penanganan karhutla di Posko Aju Provinsi Riau, Lanud Roesmin Nurjadin, pada Senin, 24 Agustus 2026, menunjukkan perhatian pemerintah pusat terhadap kondisi Riau.
"Kami menyampaikan penghargaan dan apresiasi kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto yang telah menyempatkan hadir langsung di Riau. Kehadiran beliau memberikan semangat sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah pusat benar-benar hadir bersama masyarakat dalam menghadapi persoalan karhutla ini," katanya.
Berdasarkan laporan Pemerintah Provinsi Riau dalam rapat yang dipimpin Presiden, sebanyak 306 titik panas atau hotspot terdeteksi di Riau hingga 23 Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, tujuh titik telah berkembang menjadi titik kebakaran yang tersebar di empat kabupaten.
Prabowo meminta jajaran terkait tidak menunggu hotspot berkembang menjadi titik api dan segera melakukan tindakan dini di setiap lokasi yang terdeteksi.
Presiden juga meminta edukasi kepada masyarakat diperkuat guna mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar.
Mursyid mengatakan dirinya akan terus membangun komunikasi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi dampak karhutla, terutama kabut asap yang berpotensi mengganggu kehidupan masyarakat.
Koordinasi tersebut melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, lembaga penanggulangan bencana, serta pihak terkait agar penanganan tidak hanya dilakukan ketika kebakaran membesar.
Upaya penanganan juga diarahkan pada pencegahan, deteksi dini, dan respons cepat terhadap kemunculan titik panas.
Mursyid menegaskan persoalan asap akibat karhutla tidak boleh dipandang sebagai masalah satu daerah karena dampaknya dapat meluas ke wilayah lain apabila kondisi memburuk.
"Kita harus mengantisipasi bersama. Jangan sampai asap semakin meluas dan masyarakat menjadi korban. Ketika asap muncul, persoalannya bukan hanya kesehatan, tetapi juga pendidikan, ekonomi, dan aktivitas sosial masyarakat ikut terganggu," katanya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



