HOME  ⁄  Nasional

Ahli UGM Sebut Salah Kelola Lahan Dapat Memperparah Dampak Cuaca Ekstrem

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Ahli UGM Sebut Salah Kelola Lahan Dapat Memperparah Dampak Cuaca Ekstrem
Foto: (Sumber :Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Greenlab Indonesia menguji kualitas air sumur yang digunakan masyarakat Raja Ampat, Papua Barat Daya. ANTARA/HO.)

Pantau - Kepala Pusat Studi Pengelolaan Sumber Daya Lahan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Junun Sartohadi mengingatkan kesalahan tata kelola lahan dapat memperparah dampak bencana ekologis akibat cuaca ekstrem.

Junun dalam diskusi yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu (26/8/2026), menilai masyarakat dan pengambil kebijakan kerap sibuk mencari pihak yang dianggap bertanggung jawab ketika bencana terjadi, sementara langkah mitigasi dan perbaikan justru terabaikan.

"Kadang kejadian-kejadian ekstrem itu selalu ditimpakan pada kondisi lahan. Sehingga, kita sibuk mencari siapa yang salah, tetapi siapa yang action terlupakan," katanya.

Menurut Junun, perubahan lingkungan pada dasarnya dipengaruhi faktor geodinamika dan fluktuasi iklim sehingga bencana primer akibat cuaca ekstrem tetap dapat terjadi secara alami.

Namun, dampak kerusakannya dapat ditekan apabila pembangunan dan pengelolaan lahan dilakukan secara tepat.

"Ketika kita itu salah kelola, ada kesalahan di satu titik ke titik yang lain, ini bisa jadi meningkatkan impact," ucap dia melanjutkan.

Pembangunan Harus Tepat Lokasi

Junun meminta pembangunan infrastruktur dan kegiatan fisik lainnya berpegang pada prinsip kehati-hatian dengan mempertimbangkan ketepatan aksi dan lokasi secara ekologis.

"Pembangunan atau aksi-aksi kita itu harus tepat lokasi, tepat posisi. Tepat lokasi itu unitnya secara ecological sudah benar atau belum, yang kedua secara lebih mikro lagi, apakah itu dalam konteks DAS, apakah dia ada di hulu, tengah, atau hilir, ini nanti ada konsekuensi-konsekuensi logis yang harus dikerjakan," ujar Junun.

Pertimbangan kondisi daerah aliran sungai (DAS), mulai dari kawasan hulu, tengah hingga hilir, dinilai penting karena setiap lokasi memiliki konsekuensi ekologis berbeda.

Junun juga mendorong penggunaan teknologi geoinformasi modern untuk menghadapi kompleksitas tata ruang dan pengelolaan sumber daya lahan yang terus berubah.

AI Didorong untuk Pemetaan Lahan

Menurut Junun, pemetaan lahan modern membutuhkan teknologi komputasi agar data spasial yang terpisah dapat disatukan menjadi informasi yang utuh, berkelanjutan, dan real-time.

"Oleh karena itu, pemanfaatan AI, machine learning, dan sebagainya sehingga data poin yang sifatnya diskret antara satu poin dengan poin yang lain tidak terkoneksi, ini bisa menjadi satu dasar data yang utuh," kata Prof Junun.

Teknologi geoinformasi berbasis kecerdasan buatan tersebut dapat diterapkan dalam berbagai sektor strategis, termasuk pertanian.

Junun mencontohkan kebijakan subsidi pupuk yang hanya menggunakan batas administratif kecamatan berpotensi menyebabkan distribusi tidak sesuai dengan kebutuhan lahan.

"Sebagai contoh, kalau kita di bidang pertanian, subsidi pupuk itu dasarnya unit kecamatan, ini sudah pasti ada bagian-bagian yang overdosis, ada bagian-bagian yang underdosis, sehingga produktivitasnya bisa tidak bisa kita rencanakan dengan baik," kata Junun Sartohadi.

Penulis :
Ahmad Yusuf